Wednesday, April 17, 2019

The Effortless Parenting


Suatu malam, sepulang kantor, saya berpapasan dengan serombongan keluarga pemulung. Mungkin satu keluarga, mungkin tidak sih. Tapi saat itu saya lihat ada Bapak dan Ibu, sang Ibu menggendong balita - saya perkirakan usianya baru dua tahun. Lalu ada anak yang agak besar, lebih besar, lebih besar lagi, dan paling besar. Mungkin usianya juga baru sembilan atau sepuluh. Satu keluarga besar untuk zaman sekarang.

Pemikiran alamiah saya yang pertama adalah, LUAR BIASA! Dengan hidup yang tampak seadanya, mereka tampak riang gembira tanpa beban hidup. Padahal malam itu, mereka semua membawa gembolan karung dan besi jepitan, ada yang beralas kaki dan tidak, namun semua tampak tertawa bahagia. 

Nyesss... agak mbrebes mili sih saya waktu itu.

Berikutnya sih, saya agak bertanya-tanya, gimana cara orang tuanya kalau mau mesra-mesraan ya? Anaknya sampai lima, lho! (It happened every time I see these kinds of families...

Anywayyyy...

Pemandangan itu mungkin memberikan pencerahan secerah wajah Nicholas Saputra di postingan selfie IG-nya hari ini untuk saya, bahwa kebahagiaan keluarga itu tidak harus sulit.

Mungkin buat kita yang menjalaninya, agak denial kalau harus bilang: Yes, I put too much effort on that! Tapi, kalau direfleksikan baik-baik, dan dipahami dengan akal sehat, ada benarnya juga siiih.

Saya jadi ingat masa-masa menjadi orang tua baru. Segala ilmu gentle birth dipelajari, persiapan menyusui dan MPASI dilakukan dengan berbagai literatur pendamping. Nyatanya, pada saat melahirkan, saya tidak punya perasaan yang waw banget gitu. Saya cenderung plain dan ikut arus saja. It was totally unexpected, secara segala kisah melahirkan itu kan dikisahkan penuh drama dan magical.

Kemudian, sebagai emak-emak masa kini, belajar dong kalau mau MPASI dibiarkan BLW. Trus pakai metode anaknya dikasih finger food, biar dia belajar makan sendiri. Mamam tuh pengalaman, anak saya diikutkan cara ini, akhirnya dia nggak doyan makan. Fufufufufu. Sampai sekarang, makannya banyak kalau disuapin.

Ngiri lihat postingan teman yang anaknya mau makan banyak dan mau makan sendiri? Mamam tuh rasa iri. Hahahahahaha. Saya udah nggak peduli, anak mau makan atau engga yang penting masih ada asupan yang masuk dan dia masih hidup sehat bahagia petakilan, yaudah. Dinikmati saja hidup ini, daripada banyak menelan pemikiran sendiri.

Berikutnya, dalam mendampingi perkembangan anak, dilakukanlah Montessori di Rumah. Huahahahahahaha. Maaf saya nggak tahan untuk nggak ketawa. Karena too much for me.
Pernah lho, saya ditegur Ibu saya, katanya untuk anak itu harus ada kurikulumnya - sepertinya beliau baru dapat ilmu Montessori di Rumah ini dari geng arisannya.

Duh maaf, saat itu saya masih bekerja kantoran, urus catering rumahan, plus disuruh bikin kurikulum? Monmaap I have no more power. Kalau ada yang bisa melakukan semuanya sekaligus, ANDA LUAR BIASA!

Pada akhirnya, saya merasa bahwa seni Effortless Parenting yang kami lakukan saat ini, paling nyaman untuk keluarga kami. Beberapa hal yang kami lakukan antara lain seperti ini:


  1. Have Fun Together
    Dulu, saya dengan mudah membelikan mainan ini itu, karena berpikir "Yang penting anak gw nggak rewel", atau "Biarin deh, biar dia senang". But I spoiled her. Mainan jadi menumpuk, dan dia nggak belajar untuk merawat barang-barangnya.

    Kemudian, sesi belanja mainan itu kita ganti dengan lihat-lihat aja, dan main bareng aja sama dia. Kadang kami buat playdough dari terigu, air dan minyak - dikasih warna-warni. Atau kadang kami memasak pancake, lalu dimakan bersama-sama. Atau kali lain saya berkebun, dan dia membantu mengambilkan barang-barang - dan seringkali berakhir dengan anaknya basah kuyup main siram-siraman air.

    Saya ingat dulu ada seorang rekan kerja di kantor, Bapak-Bapak, cerita kalau libur akhir pekan, dia paling suka mengajak anak-anaknya memancing ikan berjam-jam. Yang dinikmati bukan hasil pancingannya, tapi obrolan dan kebersamaan dengan anak-anak yang menyenangkan.

    Atau cerita dari Bapak-Bapak lainnya, dia bilang kalau liburan dia dan anak-anaknya jarang pergi keluar rumah. Dan kegiatan paling asyik untuk mereka adalah mencuci mobil bersama-sama. Setelahnya mobil bersih, semuanya basah kuyup! Hahaha...

    Jadi ternyata, apapun yang dilakukan, asal bersama-sama dan kita "Be There", akan jadi sesi paling menyenangkan untuk orang tua dan anak.

  2. Nggak Ribut Urusan Makan
    Sejak bayi sampai sekarang, saya jarang banget memperkarakan urusan makanan untuk anak. Prinsipnya, apa yang saya makan ya dia juga makan. Jadi, nggak pernah tuh kita pergi liburan lalu isi tasnya bahan makanan anak. Palingan jaman MPASI dulu saya beli bubur siap masak, hehe..

    Urusan ini ternyata memudahkan sih, karena kalau saya dan suami mau makan masakan Padang, ya anaknya tinggal makan nasi sama Ayam Pop aja. Kalau kita mau makan Ramen, anaknya ya doyan banget.

    Trus saya juga nggak steril-steril amat sama anak. Anak saya masih kenal MSG hahaha. Hari gini susah banget kalau harus 100% organic healthy food (walau saya usaha catering sehat yaa). Kan hidup kita nggak di rumah terus, jadi kadang makan Happy Meal atau Cheesy Balls sampe bego juga masih aman lah.

  3. Be Real
    Anak saya seringkali minta liburan ke Jepang, Hongkong, Amerika bla bla bla karena efek nonton Yutub (oia, anak saya kenal gadget kok wkwkwkwkwk). Ketimbang memaksakan diri harus sampai ke Jepang karena semua family blogger liburan ke sana, kami menjelaskan ke si bocah kalau saat ini kita hanya mampu liburan ke taman dekat rumah aja dulu yaaaa. Sekalian deh, ngajarin anaknya bersabar dan berdoa.

    Kadang saya sisipkan petuah: "Ayo kalo gitu uangnya ditabung aja biar bisa ke Jepang". Kemudian, anak saya langsung ber-ide menggambar uang banyak-banyak biar bisa beli tiket pesawat :D

  4. Selow
    Saya juga bingung sih, selow itu gimana ya. Yaaa pokoknya nggak panikan, go with the flow, karena nggak ada orang tua yang dapat pelajaran jadi orang tua sebelumnya. Jadi salah itu biasa, tinggal minta maaf dan diperbaiki. Kalau ada masalah tinggal dihadapi, walau dalam hati ketar ketir. Biarlah Ibu dan Ayah yang stress, nak. Asal kau tetap bisa cengengesan.

  5. Memberi Ilmu untuk Membumi
    Anak saya ikutan ekskul yang bisa diikuti balita-balita. Tapi itu karena dia yang mau dan memang tertarik. Kalau memang ada rejeki, mengapa tidak? Toh tujuannya bukan untuk membuat dia jadi lebih dibandingkan yang lain, tapi lebih ke penyaluran energi dan bakatnya anak. Sekali lagi, saya bukan Ibu-Ibu kreatif yang bisa melakukan montessori di rumah ya, jadi saya perlu pihak ke tiga untuk membuat anak saya lebih berkreasi.

    Tapi, dalam segala kegiatan anak, saya usahakan agar dia punya rasa percaya diri, namun tidak harus selalu berkompetisi. Ajaran utama saya, tidak apa-apa kalau kalah dalam bertanding. Kan nggak harus selalu menang?
Pada akhirnya, dengan segala drama kehidupan (belum lagi balada ART, pekerjaan, tetangga, mertua, nenek, kakek, and the bla bla bla), kita perlu belajar untuk lebih santai menghadapinya. 

Salam santai, para Mama!

X.O.X.O
(and loads of usapan di punggung pake minyak kutuskutus)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...