Saturday, April 13, 2019

Kontemplasi Pengusaha

Dok: Pribadi
Sewaktu membuka belanjaan malam ini, saya baru menyadari: KIRIMAN BAHANNYA SALAH MEN! Hahaha...

Saya pesan Lidah dan Ayam Kampung, mendadak yang datang hanya Lidah-nya saja. Bakal dimasak apa pula lidah hampir 10 kilo gini?? Oke, putar otak, cari resep-resep lidah yang kira-kira yahud, cus masak, foto, jual.

Iya, semudah itu sebenarnya kalau mau usaha kuliner (dan usaha lainnya) di zaman industri 4.0 ini. Belum lagi segalanya macam interconnected. Jurus racun meracuni belanja ini itu pun dilakukan, dan nggak sedikit yang berhasil banget. Kadang saking penasaran sama rekomendasi influencer A, atau teman A, lalu coba beli, dan kecewa. Tapi kekecewaan itu kadang tak disampaikan, karena merasa salah kalau berbeda pendapat sama inner circle-nya. Hahaha.

Saya sih merasakan sekali, betapa kita dimudahkan oleh teknologi dan ekosistem usaha masa kini. Ketika memutuskan untuk jualan makanan, tanpa perlu punya lapak cantik-cantik, bisa menjangkau pembeli hingga ke wilayah beratus-ratus kilometer jauhnya. Ternyata selain modal, kebisaan, dan niat, juga harus ada effort yang dilakukan. 

Dikira itu ayam bisa matang sendiri kalau nggak dimasak? Ya engga kan?

So that's why saya agak alergi kalau bertemu dengan orang yang usahanya minim, banyak mengeluh, dan maunya cepat banyak hasilnya.

Bukankan Tuhan juga sudah menjamin rezeki tiap hamba-nya? Tinggal bagaimana kita berusaha :)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...