Monday, December 24, 2018

Prahara Rumah Tangga

Sudah dua minggu belakangan ini saya mbak-less alias nggak ada mbak yang tinggal di rumah lagi. Sebenarnya hal yang biasa sih, toh sebelumnya juga saya hanya ada asisten yang pulang pergi. Tapi memang kisah si mbak terakhir ini bikin keki, sehingga layak dibagikan supaya beban hidup agak berkurang.

Alkisah di suatu hari ketika kembali dari road trip Jatim jilid 1, tante saya menelepon. Dia menawarkan asisten untuk bekerja di rumah. Well, pada saat itu saya sudah ada beberapa mbak yang bekerja, karena kebutuhan catering dan bocah juga sih. Tapi, karena promosi dari si tante yang bilang kalo mbak ini udah jago, sehingga semua asisten saya kelak bisa diberhentikan, maka saya ambil lah dia.

Beberapa hari pertama di rumah, kesannya sih ya biasa saja. Kerjanya nggak yang extraordinary, tapi oke lah. Seengganya setiap hari rumahnya rapi, tidak ada tumpukan cucian, dan bisa request makan kapanpun lapar.

Sebulan pertama, catering saya mulai lancar. Tenaga kerja bertambah, dan si mbak juga tampak mau mengerjakan berbagai hal. Di bulan pertama, kami memberikan dia sepeda yang memang jarang digunakan. Katanya, untuk anaknya ke sekolah nanti.

Setelah pulang kampung di bulan pertama, dia kembali ke rumah dan kerja dengan normal. Hingga bulan ke dua, saya mulai banyak memberikan order untuk mengerjakan ini itu ini itu. Hingga bulan ke tiga, kok kayanya order saya makin banyak yaaa.

Mulai spaneng saat dia ijin menginap di suaminya, kemudian saya cek kamar Little A (karena dia masih menempati kamarnya anak saya). Eh, kok banyak tumpukan barang nggak jelas ya? Saya mulai ngomel sambil mengeluarkan semua isi kamar. Bayangkan, di kotak mainan, ada perlengkapan baking saya. bersama dengan Barbie, dan sampah-sampah yang entah dari mana. Jorok banget!

Sekembalinya dia, lalu dia rapikan isi kamar. 

Keesokan harinya, ada prahara lain karena kompor mendadak nggak bisa dimatikan. Sehingga, saya harus cari kartu garansi kompor yang nggak ketemu dimana-mana. Alhasil, saya mulai bongkar semua tempat, dan seperti diduga, si mbak harus bersih-bersih di banyak tempat, karena saya jadi menemukan debu ada dimana-mana.

Ya kan ada mbak 2 orang, jadi mau rumahnya kinclong dong yaaaa?

Setelah dua hari mencari, akhirnya ketemu juga itu kartu garansi - di lokasi yang konon kata si mbak udah dibongkar sama dia. And right into her face, saya beritahu kalau kartunya saya tempel di kulkas.

Kemudian, kisah menyebalkan lainnya adalah, dua hari kemudian ada pesan singkat dari tukang kompor, menanyakan kartu garansi. Karena, katanya si mbak saya nggak tahu ada di mana kartunya. Ketika saya tanyakan ke si mbak, dia dengan mudahnya menjawab: "saya nggak tau, bu. Saya cari dimana-mana nggak ada."

Emosi deh. Soalnya saya sudah bilang kartunya ditempel di kulkas, dan DIA SUDAH KITA BELIKAN HP UNTUK BERKOMUNIKASI. Kok ya nggak ada inisiatif nanya.

Beberapa hari kemudian, tibalah di acara puncak emosi saya. Jadi, saya pergi ke Jogja, ketika di perjalanan malam hari, suami saya bertanya: "si Teteh ada suaminya datang ya? Kok ada laki-laki di rumah kita?".

Langsung dong mamak emosi. Setelah dikirimkan video rekamannya oleh suami saya, baru ketahuan kalau ITU KURIR CATERING GUE. Dan emang lama banget di rumah haha hehe sama si mbak, sampe masuk-masuk ke dalam rumah.

Si mbak? Dengan santai duduk-duduk ngobrol ngalor ngidul. Dan diakhiri dengan dia pergi keluar dari jam 5 sampai 9 malam, tanpa pamitan ke kita. Saya telepon nggak diangkat. Ketika akhirnya dijawab, hanya melalui pesan singkat yang intinya dia bilang cuma ke depan sebentar.

MasyaAllah. Menguji kesabaran banget.

Saya ngomel ke si mbak, dan ke si kurir. Keduanya saya ultimatum kalau mau apa-apa bilang dulu sama saya, termasuk kalau mau bertamu. Setelahnya, saya kehilangan rasa percaya sama si mbak. 
Sama si kurir pun jadi ala kadarnya aja, nggak bisa terlalu ramah juga.

Sekembalinya dari Jogja, saya nggak bisa ramah sama si mbak. Dan dia makin banyak melakukan kesalahan. Dari yang kecil-kecil saya maklumi, sampai akhirnya saya nggak tahan juga. Dan akhirnya, si mbak minta pulang di saat saya sedang bongkar kulkas bersih-bersih, yang mana ternyata kulkasnya kuotooorrrrrrr buanget.

Sekarang si mbak sudah pulang, dan saya nggak mau di balik sama sekali.

Dan yang saya kesel, ternyata dia banyak menyimpan sampah di rumah, padahal kalau siang dia nggak ngapa-ngapain cuma main fesbuk. Nggak cuma itu, setelah dia pergi, saya baru mendapat laporan kalau si mbak itu tiap malam telpon-telponan sama laki-laki, trus dia udah hampir dilabrak sama istrinya tukang yang kerja di bangunan sebelah, lalu dia diajak nikah sama kurir saya, sampai yang urusan pekerjaan dimana dia ternyata menyikat teflon saya pakai kawat - dan yang parah, dia nggak mau ngaku!

Thank you, next!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...