Monday, June 11, 2018

Cerita Santai Menjelang Lebaran

Kembali menjadi mamak kantoran yang ditinggal mbak sejak sebelum puasa, saya tidak merasa panik ketika Lebaran akan tiba. Lha wong tiap hari juga sudah belingsatan ngurus ini itu sendiri, dan terbiasa memikirkan hari ini anaknya sama siapa yaaa.

Beruntung menjelang Lebaran ini bala bantuan sudah berdatangan. Mulai dari adik saya yang datang dari Inggris dan suami yang libur duluan, jadi saya ada waktu untuk planga plongo mikirin yang kurang penting lainnya. Misal, ketika pagi ini anak saya belum bangun, lalu membaca ada berita tentang nganu yang bermasalah, lalu si nganu yang disalahkan. Atau berita lainnya tentang nganu, lalu diprotes dan ujung-ujungnya ada nganu lain yang disalahkan.

Saya jadi berpikir, kok jaman sekarang sulit ya untuk berterima kasih dan bersyukur? Namanya manusia aja ada cela, apalagi hasil kerja manusia. Pasti nggak akan sempurna.

Jangankan begitu. Saya merasa pada akhir Ramadhan ini mendapat cobaan kesabaran, terutama ketika di jalan. Beberapa hari yang lalu, ketika mobil saya terjebak di tengah perempatan besar, dan itu diakibatkan mobil dari arah lain yang mengunci jalan, tiba-tiba di depan saya ada motor kemrungsung mau masuk, lalu dia tiba-tiba memaki-maki saya dengan kata-kata kasar. Pengendaranya laki-laki, tidak menggunakan helm pula.

Dan karena saya manusia biasa yang tingkat kesabarannya masih di level keset, ya saya terpancing untuk balas mengamuk dong. Kalau saya bawa batu di dalam mobil, yakin deh pasti sudah saya lempar ke laki-laki itu. Bayangkan, sudah saya terkunci kena macet jalanan, dimaki-maki, eh sama orang yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas pula. Gimana nggak mau ngamuk?

Tidak jauh dari sana, ada serombongan pengendara Harley Davidson yang memotong jalan saya, dan mereka jalan melawan arus. Jalanan mbahmu kali yo. Mau ngamuk? Pasti lah. Malam itu saya sungguh lelah luar biasa dan penuh emosi.

Kemudian saya menyesal karena terpancing emosi. Padahal mungkin itu malam Lailatul Qodr dan Allah sedang menguji kesabaran saya.

And that was what I was thinking while reading about si nganu yang protes sama nganu tentang nganu, saya menyadari bahwa kunciannya untuk ketentraman hidup dan perdamaian dunia adalah: pengendalian diri. And that was it!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...