Monday, October 23, 2017

Kisah Ibu Bekerja: Antara Tanggung Jawab di Kantor dan di Rumah

Buibu, ngacung yang suka kepikiran kalau mau meninggalkan anak di rumah!

Saya sebenarnya beruntung banget punya Ibu yang agak posesif sama cucu satu-satunya. Jadi, semua urusan mengasuh anak selama saya bekerja, ya dibantu oleh Ibu saya. Before you judge, yang mendorong saya untuk bekerja kantoran lagi juga Ibu saya lho.

Sejak punya anak, bukan sekali dua kali saya berusaha mencari pengasuh di rumah. Seingat saya, ada setidaknya sudah 4x saya berganti Mbak di rumah - mulai dari yang job desk-nya bantu-bantu dapur sampai yang bantu ngurus anak. Sampai dengan detik ini, belum ada lho yang bisa saya percaya 100% untuk saya titipkan anak seharian full. 

Bermacam alasan pokoknya, mulai dari yang tidak ada pengalaman bekerja, kurang tanggap, atau memang tidak bisa bekerja hingga petang seperti Mbak saat ini yang PP saja. 
Kalo bawa anaknya 2 gimana?

Setiap kali Uti ada urusan keluar kota, saya musti berbagi tugas dengan suami untuk jaga anak. Kadang, anak saya juga dititipkan ke kakak saya. Dia jadi anak semua orang - dan kata orang-orang yang pernah dititipi, anaknya lebih pinter kalau nggak ada Ibunya :D

Kalau ada yang menganggap saya santai-santai aja dan nggak merasa bersalah main titip-titip anak seenaknya, ya berarti orangnya sok tau aja sih. Tapi yang namanya khawatir kan nggak perlu ditampakkan terus menerus ya. Dan seperti yang saya pernah baca, Mommy's gotta do what mommy's gotta do. Kalau saya sudah memilih bekerja kantoran, ya harus tanggung jawab juga lah. 

Well, ada kalanya semua rencana nggak berjalan, dan anaknya nggak bisa dititip siapapun. At that point, saya seringkali membawa anak ke kantor. Ya di kantor tinggal gelar alas melantai di karpet aja. Anaknya sih bahagia banget tiap diajak ke kantor. Tinggal emaknya dan orang-orang kantor aja yang cape ngikutin anaknya muter terus kaya gasing (dan ngajak ngomong semua orang). 

Sekali waktu, saya pernah menerima komentar, "Emangnya sekarang boleh bawa anak ke kantor ya?". Yang memberikan komentar sih bapak-bapak. Pada saat itu saya hanya menjawab "Ya, sesuai kebutuhan aja sih, Pak."

Setelah lewat kejadian itu, saya jadi kepikiran. Mungkin bapak-bapak tidak bisa merasakan empati untuk Ibu bekerja seperti ini ya. Bisa jadi bapak itu memang istrinya bukan orang kantoran sehingga tidak ada masalah untuk urusan anak, atau memang dia tipikal orang yang sangat membedakan urusan rumah dan pekerjaan. 

At this point, saya merasa tidak ada yang salah sih. Toh, urusan orang berbeda-beda. Fokus orang berbeda-beda. Bagi saya, saya harus memenuhi tanggung jawab utama sebagai Ibu, dan tanggung jawab saya sebagai karyawan yang bekerja. Kalau memang saya harus masuk ke kantor, yaudah ngantor aja sambil bawa anaknya. 

Saya kemudian teringat pada teman saya, yang mengalami kesulitan pengasuh, dan daycare belum bisa jadi pegangan utama, maka dia juga terpaksa membawa anaknya ke kantor setiap hari. Apakah itu masalah untuk kantor dan rekan kerjanya? Sepertinya tidak. Memang sih, pada akhirnya teman saya memutuskan untuk berhenti bekerja sendiri. Which, pasti kepikiran banget lah sama ibu-ibu. Kalo aja nggak inget cicilan ya :D

Pernah juga suatu kali saya mendengarkan presentasi dari seorang eksekutif HR, yang mengatakan bahwa di perusahaannya disediakan daycare untuk anak karyawan. Sehingga, kebanyakan karyawan Ibu-Ibu akan lebih fokus dalam bekerja. Itu saya setuju banget. 

Kantor saya saat ini belum sampai pada tahap buka daycare, tapi kalau sampai ada, saya akan sangat mendukung lah!

Just don't blame a working mother. Or you will be seen as cynical for your whole life (sama saya).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...