Saturday, July 8, 2017

Hikmah Ramadhan Tahun Ini

Setelah bergelut dengan tumpukan cucian, rutinitas harian di rumah dan luar rumah, serta kelelahan luar biasa, akhirnya saya punya waktu untuk merenungkan makna Ramadhan tahun ini untuk diri saya sendiri. 

Saya merasa rugi luar biasa, bila mendapati diri saya melewati bulan yang penuh berkah, tanpa merasakan berkahnya. Well, menurut saya pasti berbeda untuk setiap orang. Begitu pula dengan makna Lailatul Qodar untuk orang lain. 

Dan mungkin agak telat, tapi beberapa renungan Ramadhan ini saya dapatkan ketika sedang berpuasa, setelah bulan puasa, dan hingga saat ini. Hehe.. Toh masih bulan Syawal, masih ada lah sisa suasana Ramadhan-nya. Oia, hampir keseluruhan proses merenung ini saya lakukan saat berkendara, ketika jalanan macet dan penuh waktu untuk kontemplasi :D


  1. Menahan lapar dan haus itu perkara mudah, menahan nfasu yang luar biasa sulitnya. 
    Saya mendapati diri saya lepas emosi, dan merasa menyesal setelahnya. Dalam berpuasa, saya tahu sekali bahwa intinya adalah menahan nafsu. Yang paling gampang kelihatan ya nafsu makan ya. Tapi, di luar itu, wah jangan ditanya. BERAT BANGET MEN, APALAGI KALO LAGI PMS! 

    Blame it to PMS, tapi intinya puasa kan menjadi pribadi yang lebih baik ya. And that's what I'm trying to do. Until now. Mudah-mudahan saya menjadi pribadi yang tidak mudah emosian lagi, bisa menahan diri dan amarah, menahan tensi tidak naik, dan tidak menyulut emosi orang (termasuk dalam berdrama dan menambah situasi drama).

  2. Berbagi itu yang penting diniatkan untuk siapa saja, tidak perlu tebang pilih. 
    Kalau ada suatu hal yang saya sesalkan lagi, adalah ketika saya berniat ingin berbagi, tapi ada banyak kriteria siapa yang boleh saya bagi. Padahal, kalau dipikir-pikir, berbagi itu kan dengan siapa saja ya? Tidak perlu ada alasan karena dia sesuatu, atau boleh dibagi asal dia memenuhi syarat ini itu. 

    Yang ada, sebagian besar niat saya jadi tidak terlaksana, karena saya terlalu banyak pertimbangan. Lain waktu, kalau memang sudah niat ya jalankan saja. Niat baik tidak akan berbuah buruk, kok. Note to myself. 

  3. Menjaga lisan dan perilaku. 
    Ini memang berlaku secara umum, tapi saya memang sangaaaaat mendapatkan pemahaman ini ketika mendapati adanya kemungkinan lisan saya memperburuk suatu keadaan, dan perilaku saya mendukung kondisi yang tidak baik. 

    Memang kadang kita tidak berniat buruk, atau bahkan tidak sadar melakukan sesuatu yang buruk. Tapi percayalah bahwa memang ajaran Rosul untuk berperilaku baik itu sangat sangat penting saat ini. Untung saya punya suami yang sering mengingatkan bahwa diam adalah emas, dan bila tidak punya sesuatu yang baik untuk dilakukan, sebaiknya diam. Noted.

  4. Keluarga adalah ujian sesungguhnya. 
    Buat saya, ujian kesabaran menghadapi anak yang super ngeyel, suami yang suka banyak alasan, Ibu yang bawel, adalah ujian paling sulit sesulit-sulitnya. Saat puasa kemarin, makin berasa banyak dosanya karena menghadapi kondisi keluarga demikian tanpa kesabaran extra. Jadi saya berdoa semoga saya diberi kesabaran yang melimpah ruah, hehehe...

Dan seiring berakhirnya masa liburan, dan kembalinya para pemudik memadati ibukota, saya menyadari satu hal. Bahwa bulan Ramadhan itu ibarat tombol refresh atau reboot di komputer. Saat sudah penuh penat dengan urusan duniawi, disegarkan kembali diri kita. Begitu pula dengan isi bumi. Jadwal kerjaan yang super padat, seolah disegarkan kembali dengan libur lebaran yang panjang. Kebosanan bekerja digantikan dengan kesibukan di rumah hingga rindu bekerja. Dan jalanan yang ruwet menjadi sepiii lengang seolah tahu kapan saatnya harus beristirahat.


Semoga bisa bertemu Ramadhan berikutnya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...