Monday, May 15, 2017

Tentang Menghadapi dan Menjalani Perbedaan

Saya tergelitik untuk menulis mengenai hal ini, tentu karena situasi yang sedang saya (dan kita) hadapai saat ini. Well, saya nggak akan bicara politik juga sih, tapi saya coba refleksi diri aja mengenai kehidupan saya terkait kehidupan yang katanya Bhineka Tunggal Ika ini. 

Saya menyadari adanya masalah saya dengan menjadi berbeda sejak Sekolah Dasar. Waw, lama ya. But yes, dengan tampilan rambut yang keriting seperti kesetrum, saya bukannya menemukan jalan untuk tampil glowing and act like a superstar (I wish I knew Beyonce or Naila Alatas back then), tapi saya justru menerima berbagai ledekan karena rambut saya yang tampak berbeda itu.

Julukan Kribo, Sarang Tawon, dan Ambon sudah biasa saya dapati sampai akhirnya saya menjadi kebal. Yes, there are times I mad at the situation, tapi kemudian cuekin aja lah. Ada pula usaha saya untuk tampak "normal" dengan meluruskan rambut saya. Berbagai tehnik mulai keriting papan, rebounding, smoothing, sampai coco pernah saya coba. Tapi buat apa sih, sebenarnya? I actually feel sexy and fierce with my curly hair now! (sayang aja nggak bisa pamer kalo sekarang ya).

Cuma itu? Engga sih. Dulu jaman SD, saya seringkali merasa panas di mata dan merasa butuh untuk mengedipkan mata berkali-kali. Later I knew that I need eyeglasses. Tapi saat itu, saya mendapatkan nyanyian untuk meledek kebiasaan mata saya. I was growing up with lots of bullies. And what did I do? Just accept the situation. What did the others do? Nothing. Just tried to act "normal". Sejak saat itu, saya merasa bahwa menjadi berbeda itu salah, nggak enak, nggak nyaman, dan sebaiknya menjadi orang yang biasa aja (secara tampilan).

Kalau masalah kepribadian, kan manusia diciptakan Tuhan dengan isi kepala dan hati yang berbeda-beda ya? Hmmm... sejauh ini yang bisa saya ingat, suatu waktu ketika sekolah dipulangkan lebih cepat dan saya ingat seharusnya ada pelajaran tambahan (dan mata pelajarannya saya suka!). Tentu saya sudah menantikan waktu itu, dong. Kemudian saya mengingatkan guru kelas, dan apa yang terjadi? Saya justru dicibir oleh teman-teman sekelas.

Sedih ya, anak SD sudah mengenal bullying. Pada saat itu sih belum trend yang namanya bullying, dan belum ada yang tahu detailnya si bullying. Makin besar dan dewasa, saya paham kalau itu yang namanya bullying. Kadarnya memang berbeda-beda, dan efeknya akan berbeda pada masing-masing orang.

Kisah lain lagi, sejak SD juga saya sudah biasa bolak balik ke pasar untuk belanja. Karena, di rumah biasanya hanya ada saya, adik, dan mbak yang bantu-bantu. Pekerjaan rumah pun biasa saya lakukan sendiri, mulai dari mencuci baju serumah, bersih-bersih, dan menyiapkan makanan (dulu kami pesan catering rumahan).

Ketika ada pertanyaan dari guru mengenai kegiatan yang biasa dilakukan ketika membantu orang tua di rumah, mayoritas teman saya menjawab: buang sampah dan membersihkan kamar sendiri. Saya, karena nggak mau tampak berbeda, ikut menjawab menyiram tanaman dan bersihkan kamar saja. Sedih ya?

Well, as time goes by, dan berkat didikan Ibu saya, tumbuhlah saya menjadi orang yang sangat mandiri dan bisa melakukan segalanya sendiri. Literally. Tambah lagi, saya diajarkan untuk menjadi orang yang bertanggung jawab.

Suatu hari, saya yang baru bisa mengemudikan mobil menabrak jendela rumah hingga kacanya pecah dan kayunya bengkok. Karena takut dimarahi Ibu, saya usaha sendiri memperbaiki rumah. Saya cari toko kayu di dekat rumah, kemudian saya beli kaca seukuran yang pecah, dan saya perbaiki sendiri. Why did I put too much effort on it? Semata karena saya diajari bertanggung jawab aja. 

Ketika saya cerita mengenai hal ini pada teman saya, ada yang hanya mendengarkan dengan seksama, dan ada yang mengatakan: "Ih, kalo gw sih pasti bakal nyuruh orang aja. Males banget ngurusin gituan." Yes, we are that different. 

Atau, pernah nggak sih ketika di kelas, berpendapat yang berbeda dari yang lain, dan mendapatkan "Huuuu...." dari yang lain.

And those kinds of experience mengajarkan saya untuk mending mingkep daripada beda, atau try to be similar with others! Seems like nggak genuine ya. Tapi that's reality. 

Makin ke sini sih untungnya banyak hal yang mengajarkan kita untuk lebih menyadari dan menghargai perbedaan. Mulai dari rambut yang keriting keren (which I felt sorry for mine back then), body yang curvy lucu, kawat gigi yang keren, kacamata tebal yang bikin kelihatan pintar, speak up mind dan sebagainya. Sangat berprogres. 

Tapi, untuk saya pribadi, saya masih belajar untuk bisa bersikap lebih baik pada perbedaan. Pasti banget akan ada suatu masa di mana saya jadi minoritas, dan mungkin saya harus lebih berani bersikap baik atas perbedaan-perbedaan yang ada. Soon. 

If only being different is as easy as eating cheesecake!

4 comments:

  1. ssetuju banget nih Mbak, kadang nerima yang lain dari kita tuh susah. mungkin aneh, padahal kita belum tau betul tuh cerita dia kayak apa haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya beneeerrrr. Kadang udah gatel duluan pengen komen kalo ada yang beda ya. Hehehehe.. Tapi ya itulah, pentingnya sama2 menahan diri kayanya ya

      Delete
  2. sedih yaaa kalo anak kecil begitu udh mulai membully... aku penasaran seperti apa sih ajaran rumahnya, sampe anak bisa begitu :(.. aku prnh diejek hitam, pas msh SD... dulu memang kulitku lbh gelap dibanding yg lain... gara2 itu sempet ga PD mba, dan ada masa di mana aku ga prnh mau pake baju lengan pendek jadinya ;p.. supaya kulitku ga kliatan ama gelapnya... tp kemudian mnjelang kuliah di malaysia tuh, yg bikin aku sadar, kulit gelap itu ga masalah... di kampusku yg international, studentsnya dari india, dubai, oman, mongolia dll... ada yg kulitnya iteeem banget, ada yg puceeet banget.. tp di sana kami bisa berkumpul rukun.. dr situ aku mulai PD utk ga selalu pake lengan panjang.. dan skr cuek aja ama kulit yg gelap ;p.. apalagi suamiku putih wkwkwkwkw... skr aku bisa confident kalo ditanya orang. Ini bukan gelap, aku ini eksotis ;p hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, sama banget. Aku juga sampe ga PD sama rambut sendiri.
      Sekarang malah nyesel, kenapa ga dari dulu kenal sama artis2 hollywood biar bisa gaya kaya mereka dengan rambut kribonya hahahah

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...