Wednesday, September 9, 2015

Ketidakberdayaan. Cih.

Saya mempunyai masalah dengan ketidakberdayaan. Bukan, bukan dalam artian ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu, atau tidak dimungkinkan oleh keadaan. Tapi, lebih kepada situasi dimana seseorang tidak mau berusaha melakukan sesuatu, atau meminta-minta pada orang lain untuk melakukan atau memberikan sesuatu, seolah dia tidak mampu memenuhinya sendiri - dalam bahasa mudahnya, celamitan, kali ya. Hehehe...

Tiba-tiba saja saya menjadi terganggu dengan ritme perilaku orang-orang sekitar yang demikian. Sebut saja si A, yang konon membutuhkan sesuatu. Tapi, ketika diberikan arahan untuk mendapatkan kebutuhannya tersebut, senantiasa membuat alasan yang umumnya dimulai dengan kata-kata: "alah, kalo itu...", "tapi kalo itu...", atau "ah..."

Entah mengapa, setiap menemukan jenis manusia dengan kata-kata awal demikian, saya langsung mendapat kesan yang kurang baik. Dan biasanya hal seperti ini bertahan cukup lama pada saya. Ya, itulah jeleknya, mungkin terlalu lama menjadi pewawancara dan recruiter, dimana kesan pertama harus menggoda. Dan semakin dikilik-kilik isinya, akan semakin suka atau semakin il-feel.

Nah, berlaku juga yang sebaliknya. Kalau saya menemukan orang yang hanya dengan satu dua arahan sudah langsung bersikap siap sedia seperti tentara, pasti saya akan lebih mempercayai orang itu sampai mungkin dia melakukan kesalahan yang fatal. Alhamdulillah belum ada yang demikian, sih. 

Contoh gampangnya, dengan mas-mas Gojek deh. Saya termasuk pelanggan yang sangat aktif karena banyak urusan catering, pastinya. Untuk antar mengantar ke lokasi yang tidak bisa dipenuhi oleh kurir saya, akan saya percayakan ke Gojek. Beberapa ada yang sangat sulit diberi arahan, bahkan sudah dijelaskan langkah demi langkah via telepon, masih ora mudheng. Tapi, ada yang hanya input melalui apps, tetiba orangnya muncul dan barang sampai dengan sempurna dengan hanya satu dua informasi. Nggak pakai alasan lala lili. Yaa... kira-kira gitu lah. 

Bagi saya, setiap orang pasti mampu asal mau. Itu sudah. 

Sayangnya, nggak semua orang seperti itu. Ya banyak faktor pembentuknya, salah banyaknya pasti keluarga dan lingkungan terdekat. Another notes for me, Agira harus mau mencoba dan bisa apa-apa. 

Untuk masalah satu ini, saya sangat bersyukur dididik oleh orang tua yang hampir nggak pernah memanjakan anaknya dan membiasakan kami untuk bisa melakukan segala hal. Walaupun perempuan, saya tetap harus bisa mengganti ban mobil, mengecat dinding, bahkan saya biasa memperbaiki selang dan pernah mengganti kaca dan kusen jendela sendiri (well, memang karena kesalahan saya sih). Saya pikir dulu semua orang memang akan melakukan hal yang sama, ternyata saya salah. 

Semakin saya mengenal banyak orang, semakin tersadar bahwa lebih banyak orang yang memilih menjadi tidak berdaya. Bahkan banyak pula yang bersikap seperti meminta-minta, padahal dia mampu. 

Is it only me, or the world is not that tough?

Mungkin saatnya lebih bersyukur atas segala kenikmatan yang diberi, segala kemampuan yang dimiliki, dan segala tekad untuk memberdayakan diri. Namaste.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...