Saturday, August 8, 2015

Tentang Menikah, Menjadi Istri, Menjadi Ibu, dan Menjadi Diri Sendiri

Sabtu ini Jakarta macet parah. Penyebab utamanya menurut hemat saya, Kondangan dimana-mana! Musim kawin banget nih, kayanya. And it does taking me back to memories before married, when I was single, happy, and glowing! Hahaha...
Sebelum memutuskan untuk menikah, saya pernah menanyakan pada beberapa orang alasan mereka menikah, dan apa yang membuat mereka yakin untuk menikah. Karena, pada saat itu, memang sempat terlintas pemikiran bahwa saya tidak akan dan tidak ingin menikah. Sejarah panjang kehidupan saya membuat saya berpikir demikian, pada saat itu. 

Pada akhirnya saya pun menikah. Menjadi Ibu. Dan tidak bekerja di kantor. Betapa mainstream hidup saya, menurut sebagian orang. Hahaha...

Jujur, saya masih sering membayangkan seandainya saya masih belum menikah, apa yang akan terjadi ya? Mungkin saya masih melanglang buana berpencar ke berbagai pelosok nusantara dan dunia, menikmati hidup, mengumpulkan uang dan membelanjakannya kembali. Mungkin saya masih bekerja di kantor dengan dandanan necis, meeting kesana kemari, kongkow di cafe sepuasnya, dan menguburkan sebagian mimpi saya untuk menekuni bisnis kuliner. 

Well, yeah, Mengutip kata-kata sepupu saya, bahwa Life after Married means, busy status all the time. Nggak ada waktu nongkrong, weekend untuk keluarga, dan sebagainya. Lame, kelihatannya. Kenyataannya, masih ada aja sih yang nongkrong all the time dan no time for family. Ada banget. Hahaha.

Bagi saya, mungkin keadaan yang digambarkan di awal, dimana setelah melahirkan dan menjadi Ibu yang nggak punya ART, dan masih hidup bersama Ibu saya yang punya kekuasaan monarki absolut di rumah menjadikan saya memang lebih banyak mendedikasikan sebagian besar hidup saya untuk kehidupan domestik. Di rumah.

Saya masih sering keluar rumah sih, kadang sendiri kadang bersama bayi. Seringnya, ketika pergi sendiri, saya teringat akan si kecil dan pada akhirnya BUYAR SEMUA RENCANA BERBI. Jadi, pada akhirnya bukan status menikah atau berkeluarga yang menyebabkan kita seringkali menjadi sibuk dan tersingkir dari kehidupan sosial hura-hura, tapi komitmen dan ikatan batin Ibu dan Anak yang lebih kuat dari keinginan pribadi itu semua. 

Saya masih gerah dengan berbagai pernyataan yang seolah menyepelekan keputusan perempuan (baca: SAYA) yang awalnya bekerja di kantoran dengan gaji tetap dan jabatan lumayan kemudian berhenti bekerja kantoran setelah melahirkan. Banyak sih saudara-saudara saya yang mengapresiasi dan mendukung penuh, tapi masih banyak yang mempertanyakan bahkan menyesalkan keputusan saya itu. Alasan utama saya saat ini satu, saya belum punya panggilan hati untuk ngantor lagi dan meninggalkan anak saya di rumah. 

Walau saya nggak selalu bisa hands on untuk mengurusi semua kebutuhan sehari-harinya, tapi dengan melihat apa yang terjadi dengan anak saya setiap hari membuat saya lebih tenang. Kedua, saya sedang bahagia menjalani bisnis yang memang sudah saya cita-citakan sejak dulu. Apakah orang yang menyinyiri saya itu peduli akan keinginan saya yang terdalam? Tampaknya tidak. 

Nggak ada yang salah dari kehidupan pernikahan, pada akhirnya memang komitmen dan tujuan awal yang akan memperkuat atau melonggarkan ikatan itu. Nggak ada yang salah dari menjadi Istri dan Ibu, pada akhirnya memang keseimbangan antara hak dan kewajiban yang memuluskan dan membuat ikhlas perempuan menyandang status itu. 

Dalam kasus saya, mungkin itu justru membuka jalan dan kemudahan untuk keinginan yang terdalam :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...