Monday, May 11, 2015

“Mbak, Nggak Pakai Ncus?”

Secara saya dipanggil Nchu sejak jaman dulu oleh teman-teman dekat, saya jadi merasa aneh dengan pertanyaan Ncus ini. Saya pakai diri sendiri kok, hehe… Tapi yah, akhirnya saya paham kalau yang ditanyakan adalah Suster, alias Nanny, alias Babysitter, alias Pengasuh Bayi.

Nggak sekali-dua kali juga saya ditanya mengenai hal ini, dan nggak jarang banget saya mendapat tatapan aneh kalau menjawab “Engga, saya ngurus sendiri.” Arti pandangan itu bisa jadi “Hmm, aneh banget nih orang hari gini mau repot,” atau “Wah, hebat,” atau “Idih, repot amat hidup,” atau “nggak mampu kali ya bayar ncus,” atau “why??”.

Alasannya masih sama sih, karena memang saya merasa anak itu tanggung jawab saya yang harus saya urus sendiri, dan karena Ibu saya yang posesif banget ke cucunya itu juga nggak membolehkan siapa pun memegang Gia selain keluarganya. Simple. Tapi repot, kata orang-orang itu.

Jaman saya masih gadis manis lagi, sering lho dapat titipan pesan kalo ada Mbak yang mau kerja buat ngurus anaknya bos-bos di kantor. Wajar, mereka kan bekerja seharian penuh dan butuh orang yang bisa dipercaya untuk menjadi perpanjangan tangannya. Nyari pengasuh anak susah banget loh. Apalagi di jaman sekarang, sepertinya makin banyak berita tentang pengasuh yang ternyata nggak bisa dipercaya atau bahkan kriminal. Jadi makin parno kan.

Tapi, yang nggak bekerja juga suka belingsatan kalo nggak ada Ncus-nya ini. Ya masing-masing orang beda sih ya. Cuma kok saya heran, orang Indonesia ini apa kebiasaan semua dilayani ya, jadi ngurus anak yang dibrojolin sendiri juga musti dibantu orang. Padahal kan Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada umatnya melebihi kemampuan umat itu sendiri. Kalo Tuhan kasih tanggung jawab, dia juga pasti kasih rejeki. Kalo Tuhan kasih anak, berarti ya dikasih kemampuan untuk mengurus.

Tapi memang sih, kemampuan mengurus itu bisa jadi beda-beda. Ada yang mampu ngurus dengan keringat dan air mata sendiri, atau mampu membayar Ncus untuk ngurusinnya, hehehe… HEY! Nyari Ncus yang cocok juga perlu keahlian sendiri lho!

Jujur, makin Gia besar saya makin sering berpikir untuk merekrut Ncus khusus mengurus bayi. Tapi, masih urung karena saya juga belum bekerja di luar dan nggak gampang mencari orang yang bisa dipercaya. Kalaupun saya sampai menggunakan jasa pengasuh, sebisa mungkin saya akan tetap menjadi orang nomor satunya Gia. Jangan sampai nanti Gia maunya sama Ncus-nya, nggak mau sama Ibu *sad*.

Eia, kalau saya memperhatikan dimana-mana ya, jarang sekali ada keluarga WNA yang menggunakan pengasuh untuk mengurusi anak-anaknya terutama saat hari libur atau liburan. Padahal nggak jarang dari mereka yang punya anak sampai lebih dari dua, masih balita semua pula. Mungkin mereka repot, tapi dibawa asik aja tuh. Sedangkan kalau keluarga lokal, mohon maaf ya kalau ada yang tersinggung, ke mol yang selemparan kolor dari rumah aja harus bawa si Mbak untuk megang balita-nya…

Kalau bepergian, sejujurnya saya malah merasa risih kalau harus membawa serta orang lain yang bukan termasuk inner circle saya. Karena, bagi saya liburan keluarga itu ya saatnya memperkuat ikatan keluarga dalam suasana yang berbeda dengan kegiatan sehari-hari. Buat saya rasanya juga beda kalau ngurusi Gia di rumah dan di hotel. Hahaha...

Eh, kok ya pas banget ketika saya menulis mengenai Ncus-Ncusan ini, ada iklan dari Singapura yang tersebar secara viral mengenai kedekatan anak dengan Maid alias asisten rumah tangganya yang lebih intens dibandingkan Ibunya. Menurut survey mereka, 74% Maids itu lebih mengenal anak majikannya dengan baik (dan tampaknya lebih dekat dan akrab ya), dibandingkan si Ibu. Well, saya termasuk orang yang selalu berusaha melihat ke sisi baiknya. Heeey! Ternyata masih banyak loh pengasuh anak yang baik dan bisa dekat dan tulus mengasuh anak-anak itu!


Kalau ada, saya mau satu lah ß Anaknya nggak konsisten #gwmahemanggituanaknya

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...