Saturday, April 25, 2015

Sibuk.

Apa sih yang berubah sejak punya bayi? Banyak. Nggak perlu lah saya rangkum di sini, karena nggak akan pernah selesai daftar rangkumannya. Buat saya, yang paling berasa adalah perubahan waktu. Ya mulai dari siklus hidup yang menyesuaikan dengan bayi, sampai dengan isi kegiatannya yang nggak habis-habis.

Jaman masih kerja dulu, saya punya prinsip bahwa pekerjaan tidak akan pernah habis. Jadi, nggak perlu lah ngoyo meminta sehari dilebihkan dari 24 jam untuk hidup. Eh, setelah punya bayi, dan mengurus tetek bengek kehidupan lainnya, ternyata memang waktu 24 jam berasa kuraaaaaang banget. Padahal, waktu tidur udah berkurang, tapi yang dikerjakan juga nggak habis-habis.

Di awal kehidupan Gia sampai ia berusia lima bulanan, saya mengerjakan segala sesuatunya sendiri dengan bantuan Ibu saya. Ya, saya termasuk orang yang terpaksa beruntung tinggal satu atap dengan Ibu saya alias Uti-nya Gia. Jadi, segala kesibukan bisa dibagi, termasuk kalau saya ingin stay away from baby’s life (jangan bilang-bilang Ibu saya).

Kembali ke sibuknya. Tau sendiri lah, yang namanya bayi apalagi usia newborn sampai sekitar 3 bulanan, penggunaan popok dan bajunya sangat sangat sangat boros. Apalagi, saya masih setia menggunakan popok kain dan Clodi sejak Gia lahir. Kebayang kan, cucian saya setiap hari kaya gimana? Jadi, rutinitas saya dulu biasanya pagi nyuci, nyetrika, diselingi ngurus Gia, lalu makan ala kadarnya dan mandi sesempetnya. Segitunya? Iya, cobain aja sendiri.

Selama itu pula saya menerima banyak pertanyaan dan pernyataan yang seolah merasa heran atau kagum dengan pilihan saya melakukan semuanya sendiri. Banyak sih, teman-teman saya yang merasa nggak mampu untuk melakukan itu. Percayalah, saya juga sering merasa kelelahan luar biasa. Pada akhirnya, saya jadi nggak ngoyo untuk menyelesaikan semua pekerjaan sendiri. Batas toleransi saya atas kesempurnaan perlahan memudar, melonggar, hingga saya jadi toleran sekaliiii menjalani kesibukan ini.

Sekembalinya kami dari liburan keluarga perdana, muncullah sosok Mbak Sari yang membantu saya menjalankan usaha catering rumahan dan mengurusi kebutuhan rumah tangga. Lumayan banget sih memang tenaga yang bisa dialihkan ke pekerjaan lain, seperti menemani Gia sepanjang hari karena semakin besar dia semakin maunya maiiiinnn terus. Sampai di sini, saya akui bahwa mendapatkan bantuan tenaga itu sangat melegakan!

Berarti saya jadi nggak sibuk lagi, dong? Kata siapa heeeeeyyyy???
Selain catering saya yang makin hits dan membutuhkan perhatian juga, kebutuhan Gia kan juga makin banyak. Dia makin butuh belajar hidup dengan merangkak, berbicara, makan, berdiri, daaaaan sebagainya. Konsentrasinya penuh lho. Jadi, gugur satu kesibukan, tumbuh kesibukan yang lain.

Saya salut banget sama Ibu-Ibu yang bisa kerja dan ngurusin anaknya sekaligus. Dulu, saya punya bos yang pada jam-jam tertentu ingat kebutuhan anak-anaknya dan selalu mengingatkan pengurus anak-anaknya untuk ini itu. Jaman saya masih gadis manis sih cuma merasa kalo bos saya itu orangnya detail dan perhatian banget. Giliran sekarang, wawww saya mau standing applause dulu ah. Soalnya, selain perhatian sama keluarga, prestasinya di kantor juga hits berat! Anyway, dulu beliau yang mengajari saya untuk tetap bekerja setelah menikah, hehehehe… Bentaran lagi deh ya, mbak…

Btw, beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel di Facebook mengenai suami yang menganggap bahwa istrinya tidak bekerja, jadi tidak melakukan apa-apa. Setelah ditelaah, ternyata justru lebih banyak pekerjaan istrinya yang di rumah nggak ngapa-ngapain itu, dibandingkan dia yang bekerja kantoran. Yup, that’s reality. Siapapun yang merasa Ibu di rumah (bukan Ibu-Ibu arisan sosialita juga sih ya) yang kelihatannya nggak ngapa-ngapain dan dasteran terus itu cuma males-malesan dan gampil pekerjaannya, try to put yourself in their shoes alias coba aja tukeran peran sehari-dua hari. Kalau masih bisa mencela dan nggak mengeluh, hebat!


Masih nggak kebayang Ibu-Ibu jaman dulu pake jarik dan kebaya, sempet sanggulan sambil momong anak dan ngurus rumah tangga. Trus masaknya pake nyalain kayu bakar dulu. Epic!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...