Friday, April 24, 2015

Ibu Mau Kerja, Mau Engga, Tetap Punya Gia

Saya ingat membaca salah satu artikel dari Mbak Olen di Backpackology.me mengenai keputusannya untuk menjadi full time housewife and mom, yang dipandang mayoritas orang di Indonesia sebagai suatu kejadian tidak luar biasa. Standar.

Setiap Ibu mungkin pernah bergelut dengan pemikiran apakah akan bekerja atau tidak, demi anaknya. Saya mengalami hal itu semasa hamil, dan akhirnya memang saya lebih memilih untuk mengorbankan karir yang saya raih dengan susah payah, keringat dan air mata (tapi bohong). Topik ini juga selalu memancing pertikaian antar kubu, entah kubu apa saja. Banyak, deh. Pokoknya, di balik setiap keputusan semua orang, pasti ada pertimbangan dan persiapan yang matang.

Sebagai bola bekel yang sudah lama direndam di minyak tanah (katanya biar jago, padahal kan gimana yang main aja ya?), saya termasuk orang yang nggak betah diam. Ketika mengurusi Gia pun, saya hanya bertahan tanpa kegiatan sampingan selama dua bulan saja. Selebihnya, saya sudah melakukan ini itu ina inu yang mengundang protes, terutama dari Ibu saja karena ia juga kebagian repot, hehehehehehehehehe…

Usaha catering makan siang yang sudah saya rintis saat masih hamil, kembali saya jalankan. Bahkan, setelah melahirkan, pelanggan saya makin banyak. Kalau kata orang sih, rejeki anak. Iya Alhamdulillah pokoknya semua buat Gia. Apa sih yang engga buat Gia?

Cape? Pasti. Makan waktu? Iya. Lalu, apa yang membuat saya bertahan dengan kegiatan yang menyita kehidupan saya? Toh sudah ada Gia yang nggak habis-habis urusannya.

Eksistensi diri, men!

Kalau melihat diagram Maslow, setelah semua kebutuhan dasar terpenuhi, maka tingkat teratas adalah aktualisasi diri. Bagi saya, kegiatan yang saya lakukan akan memenuhi semua mulai dari kebutuhan dasar sampai dengan aktualisasi diri tersebut. Hahaha.... Yah, selain itu juga karena saya terbiasa memiliki penghasilan sendiri, dan agak gatal juga kalau tidak berpenghasilan.

Awalnya, terasa repot tapi masih bisa dikendalikan. Lama-kelamaan, dengan obsesi yang semakin menggila dan pesanan yang membludak (anggap saja demikian), kok saya jadi kehabisan waktu ya? Bahkan, niat mempersiapkan mpasi yang memadai untuk Gia juga gagal.

Hidup saya yang sebelumnya hanya dihiasi dengan bangun - ngurus Gia - makan mandi seperlunya - ngurus Gia - tidur sama Gia - ngurus Gia lagi, berubah total. Saya jadi sibuk, melebihi sibuknya Ibu bekerja dengan jam kerja normal. Sibuknya pebisnis awal, yang harus jungkir balik pontang panting mengurusi ini itu sendiri, membuat Gia kadang dianaktirikan. Bukan niat Ibu, nak. Sungguh…

Sempat sih, saya merasa kelelahan dan bersalah pada Gia, hingga berpikir untuk mengambil jeda sejenak. Tapi, lagi-lagi saya merasa sayang juga pada kegiatan yang memang saya impikan dari dahulu. Oia, sejak masih bekerja di perusahaan swasta, saya selalu menceritakan impian saya kelak, dimana saya akan memiliki usaha catering kemudian bisa menjemput anak saya sepulang sekolah lalu mampir makan siang ke mal. Hehehe…

Apakah itu membuat saya mengurangi kesibukan saya? Oh tidak… ternyata kadang saya rindu akan pekerjaan profesional kantoran. Saya rindu berada di ruang rapat, mengarungi kemacetan ibukota, dan berpakaian rapi layaknya para pekerja kantoran. Alhasil, saya juga menambah kegiatan dengan mengambil tawaran pekerjaan paruh waktu di suatu start-up company dimana saya direkrut langsung oleh pemiliknya di Australia. Lumayan lah untuk menambah penghasilan plus menyalurkan bakat yang lama tak diasah.

Waaaah Gia jadi makin tersingkir nih. Saya akui, saya bukan stay at home Mom yang ideal. Karena, bayi kicik saya tidak memiliki waktu mandi dan makan yang teratur, karena Ibunya masih pontang panting membagi waktu ini itu (mohon dimaklumi, hal ini terjadi saat Uti-nya Gia tidak ada di rumah, dan itu sering yaaa… hehehe). Mungkin saya akan menuai protes keras dari Ibu-Ibu yang hidupnya selalu berada dalam Garis Besar Haluan Hidup Bayi. Tapi kalo Ibunya aja hidupnya nggak teratur, gimana dong? *alasan*

Hey, satu hal yang tidak berubah, Gia masih tetap nomor satu bagi saya. Dan saya masih tetap nomor satu bagi Gia. Saya masih memenuhi semua kebutuhan ASI-nya, dan menemani tidur setiap malam. Saya masih menjadi sandaran utama setiap Gia merasa tidak nyaman, dan Gia selalu menjadi ukuran kenyamanan bagi saya. Walaupun kadang saya harus meninggalkan rumah seharian, namun tidak mengurangi kelengketan kami berdua.

Gia masih posesif sama Ibunya, kok. Tidak ada rasa kesal, dendam, sakit hati, atau merasa disingkirkan gegara kegiatan Ibu. Mungkin karena bayi masih sangat sensitif, dan dia tau ada cinta serta kasih sayang yang tidak terbatas untuknya Y

2 comments:

  1. Ah Rani,
    Problematika ibu-ibu yang gak bisa diem macam kita yaaa.

    Saya pun dalam kondisi tsb, tapi mungkin jalannya lagi di atur sama Allah. Jadi saya sabar dulu.
    Mari eksis!
    hahaha



    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuulllll! Kalo diem matgay, kebanyakaan acara jadi lieur sendiri. Ah, manusia mah nggak pernah merasa selesai dengan satu pilihan kayanya. Sabar aja dulu Van, pasti ditunjukkan jalannya sama Allah mah :D

      Salam hangat untuk Ibu2 begadang Indonesia!

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...