Friday, March 20, 2015

The Day You Were Born

Selama mengandung sembilan bulan sembilan hari, hampir semua literatur yang saya baca mengenai pengalaman melahirkan mengatakan akan ada momen mengharukan saat para Ibu melihat bayi untuk pertama kalinya. I was waiting for that moment! Saya siap terharu dan meneteskan air mata saat bayi Gia lahir ke dunia, dari manapun ia keluar.

Rewind sedikit ke masa hamil saya yang penuh hal menarik, mulai dari keluar flek-flek ringan, pendarahan hebat, hingga akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja karena terlalu sering menjalani masa bed rest. Hahaha… But I survived, anyway. Percayalah, semua kisah kehamilan akan selalu menarik bagi si Ibu, dan percayalah, tidak akan pernah habis cerita pengalaman yang bisa dibagikan dari Ibu yang pernah hamil lainnya.

Jadi, saya hanya akan merangkum kisah hamil saya dengan: penuh drama, berat, dan sangat berkesan! Bobot saya naik mendekati 30 kilo menjadi hampir 90 kilo pas mau melahirkan Gia, dan ternyata karena saya mengalami pre-eklampsia berat. Iya iya, saya masih kalah sama Astrid Tiar yang fenomenal dengan bobotnya dan kisah kembalinya badan singset…

Selama hamil, saya mengidam-idamkan proses melahirkan dengan cara water birth dan membiarkan proses alami sesuai anutan para bidan Gentle Birth. Kenyataannya, saya melahirkan dengan jalan ekspres melalui belahan perut alias operasi Sectio Cesaria.

Nah, proses melahirkan ini saya perhatikan dengan seksama melalui lampu kamar operasi yang entah kenapa sangat jelas dan kinclong. Awalnya saya ragu, apakah akan menonton pertunjukan pembukaan perut ini atau tidak. Alasan pertama, takut berasa sakit. Alasan kedua, malu melihat perut bergaris. Tapi ternyata, rasa penasaran akan proses dan detik-detik kelahiran Gia membuat saya melotot dengan seksama dan memperhatikan saat pisau bedah itu membelah perut saya.

Oia, saya melahirkan dibantu sepupu sendiri, dr. Ardiansjah Dara, SpOG di MRCCC Siloam. Kalo mau langganan sama dr. Dara, recommended banget lho – sumpah ini ga disuruh. Hahaha…
Setelah darah berceceran, dan sedotan cairan berpindah kesana kemari, nggak lama muncratlah air ketuban saya yang banyak, dan mas Dara mengangkat bayi Gia yang waktu itu berwana abu-abu dan diliputi darah segar. Saat proses itu terjadi, saya berpikir: sebaiknya saya menangis terharu, atau tersenyum, atau bagaimana ya?

Akhirnya saya malah bengong. Datar.

Sumpah, saya kira melihat bayi pertama kalinya akan terasa magis. KOK SAYA ENGGAK SIH?
Berbagai literatur yang saya baca mengatakan adanya perasaan jatuh cinta saat pertama kali melihat bayi. Tapi, ternyata perasaan itu tidak saya rasakan. Jujur, saya merasa datar. Nggak tau harus merasa apa, dan apa yang saya rasakan. Aku bingung, tolong jangan paksa aku…

Saat bayi Gia melakukan Inisiasi Menyusui Dini sebentar, saya juga biasa aja. Cuma ada perasaan kepo, ingin melihat si bayi kemanapun dia pergi.

Saya dipisahkan dengan bayi setelah proses IMD. Karena, ya saya mau dijahit dulu perutnya. Jadi, saya ditidurkan dengan heroin yang lebih banyak (mungkin), dan bangun saat proses penjahitan terakhir. Dan saat itu saya baru tahu kalau selama proses melahirkan, tekanan darah saya naik sampai 170/100. Hahaha! –> ketawa datar juga.

Kali pertama Gia benar-benar menempel pada saya adalah saat belajar menyusui, yang ndilalah kok rame ditonton sama Ibu, Ibu mertua, kakak, dan adik-adik ipar. Oke, pengalaman pertama yang tidak berkesan dan tidak akan saya ulangi kalau saya melahirkan lagi. Momen itu seharusnya magis juga. Dengan banyak penonton, saya merasa terganggu, dan bayi juga tidak merasakan sakralnya momen tersebut.

Saya yang masih setengah sadar, hanya bisa memandangi satu per satu manusia yang ada disana, dan berharap mereka akan merasakan keinginan saya itu. Tapi apa daya, hahaha. Besok-besok kalo mau melahirkan, saya akan berpesan untuk memberikan momen berdua saya dengan bayi! Hahaha…

Malam pertama dengan bayi, dihabiskan dengan begadang. Karena, bayi Gia belum bisa menyusu pada Ibu dan Ibu juga tidak tahu harus bagaimana. Gia baru tidur saat menjelang Subuh, itupun setelah diletakkan di lengan Ibunya. Jam 6 pagi, Gia sudah diambil oleh Bidan untuk diganti baju dan lainnya. Dan Bidannya baru mengatakan kalau bayi baru lahir biasanya memang tenang kalau dekat Ibunya. KENAPA SAYA NGGAK DIBILANGIN GITU BU BIDAAAAAN???

Oke, lesson learned. Kalau saya hamil lagi, maka saya akan ingat hal ini:
1.       Kalau mau melahirkan, buat daftar keinginan yang harus disampaikan pada suami dan keluarga dekat. Kalau perlu dicetak dengan jelas, supaya semua ingat.
2.       Dekatkan bayi dengan Ibunya setelah dilahirkan.


Halo, baby Gia. Welcome to the world. Welcome to my world!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...