Wednesday, March 11, 2015

Tentang Melahirkan dan Menjadi Ibu

Oalaaaah... berdosa sekali saya nggak menggubris blog sama sekali sejak, emm....sebelum melahirkan :D

Okay, dulu saya termasuk ke dalam golongan orang yang agak mencibir ketika ada Ibu-Ibu Blogger yang lama vakum posting blog karena kesibukan menjadi Ibu baru untuk Anaknya yang baru juga. Ternyata, IT DOES HAPPEN TO ME!

Sibuk gimana sih? Kalo dilihat-lihat ya rutinitas ini itu sama seperti Ibu lainnya, tapi kok ya sampai ndak punya waktu sama sekali?
Hehehe... sekarang saya hanya bisa bilang: yah, begitulah kalo baru punya bayi. Bisa mandi sekali sehari aja Alhamdulillah. Tapi sebagai catatan, ini hanya perkataan dari seorang Ibu tidak bekerja, tidak punya nanny, dan tidak pakai art juga ya. Dan tambahannya, punya bisnis catering (yang akan saya ceritakan suatu saat nanti. Nggak mau janji, karena lagi-lagi, baby comes first).

Jadi jadi gimanaaa? Saya jadi melahirkan dengan gentle kahhhh?

Kalau dibilang prinsip gentle birth yang minim trauma dan nyaman (serta aman), dengan mantap saya akan mengatakan iya. Absolutely yes, saya nggak merasakan sengsara dalam sesi melahirkan. Tapi, kalau ditanya cara melahirkannya, ternyata tidak seseksi yang saya bayangkan.

Saya nggak jadi melahirkan dalam air, apalagi di rumah. Awalnya, semata karena suami saya takut ada kejadian tak terduga kalau di rumah, jadi untuk amannya marilah kita ke rumah sakit. Ndilalah kok pas sudah saatnya keluar, ternyata harus melalui jalan ekspres alias operasi sectio cesaria. Bye bye perut mulus, halo perut dengan ritsleting melintang :D

Gimana ceritanya ya?
Mungkin masih ada yang ingat kisah saya dengan bibit njeber ala donal bebek dan bengkak-bengkak sekujur tubuh yang konon akibat pembekuan darah? Ternyata ada penyebab lainnya. Kalau ada yang menebak Pre Eklamsia, yak Anda benaaaar!

Riwayat kehamilan saya nggak pernah ada yang namanya hipertensi. Selama hamil, paling tinggi tensinya di 120/100 saja. Normal kan?
Saya juga sudah lama mengurangi garam, simply karena nggak suka kalo makan keasinan. Jadi, bukan itu penyebabnya juga ya.

Gejala melahirkan saya dimulai hari Jumat tanggal 12 September, setelah menyelesaikan urusan catering sebelum cuti panjang. Siang itu saya punya firasat akan melahirkan, dan perut terasa tegang. Malamnya, mulai ada kontraksi-kontraksi ringan dan flek yang samar. Saya sih cuek aja ya, karena nggak merasa ada yang salah. Dan saya nggak merasa apa2 yang aneh.
Keesokan paginya, Sabtu 13 September, saya kontrol ke dokter. Sebelum berangkat, eh kok saya keluar flek yang lebih banyak. Makin yakin kalau akan melahirkan. Tapi, ketika di CTG katanya masih lama, kontraksi masih lemah.
Akhirnya saya kembali ke poli dan mendapati tensi saya naik, 130/90. Di USG pun tampak masih anteng si dedeknya. Perkiraan dokter, masih bisa tahan 2 hari bahkan seminggu lagi. Saya baru boleh panik dan in a rush ke rumah sakit kalau: tensi saya mencapai 150/100, kontraksi terasa teratur selama 10 menit, dan pecah ketuban.
Saya juga diminta stop makan garam sama sekali. Okedeh omdok!

Keesokan paginya, saya merasa kontraksi yang sudah teratur 3-4 menit sekali dan kali ini sudah keluar lendir darah. Makin PD akan melahirkan, saya melangkah dengan mantap ke ruang kebidanan. Setelah CTG dua jam, bidannya tampak bingung karena detak jantung janin selalu melemah dan berada di bawah garis aman (amannya 120-160, janin saya rata2 110an). Saya diminta untuk makan, miring ke kiri, tarik napas dll dst dsb sampai dipasangi oksigen. Setelah 4 jam nggak ada perubahan, omdokter datang dengan setelan weekendnya, dan menjelaskan kondisi saya yang ternyata dinamakan Bradikardi alias Gawat Janin.

Ooo itu toh Gawat Janin.

Jadi, kalau saya paksakan melahirkan normal, khawatirnya adalah bayi keluar sudah tidak bernapas karena terlalu berat menahan himpitan entah apa itulah. Hehehe... kecapean lah singkatnya. Penyebabnya, hanya Allah yang tahu.

Saya dan suami langsung sepakat untuk mengeluarkan bayi saat itu juga melalui jalan operasi SC. Saya nggak sempat panik dan takut, karena hanya fokus pada keselamatan ibu dan bayi.
Operasinya nggak lama, setengah jam saja anaknya sudah keluar. Literally keluar dari perut dengan warnanya yang menurut saya abu-abu dan berdarah (tapi anak saya bersihhh, mungkin krn rajin minum air kelapa hijau, hehe), dan keluar ruang operasi duluan dibanding ibunya setelah IMD singkat.

Oia, saya melihat semua tahapan mulai perut dibelah sampai bayi keluar, melalui lampu kamar operasi yang kinclong jaliii. It's like Uji Nyali for me, but then I made it! Yeay!
Berhasil nggak pengsan ngeliat perut dibuka sampe dijahit lagiii! Hahaha...

I was officially a Mom. How did that feel?
Sewaktu melihat bayi keluar, saya bingung mau senang atau mellow. Alhasil jadinya datar aja, biasa aja. Cuma bersyukur dengar suara si bayi yang melengking :D
Oh, saya ingat satu hal, ketika bayi ditimbang dan beratnya hanya 2.73, I was like: HEY! I gained almost 30 kilos and you are just 2 point something??

Anyway, malam pertama dengan si bayi dihabiskan dengan begadang karena bayinya nangis terus nggak bisa tidur dan belum bisa nyusu Ibunya. Hiks. 

Hari-hari berikutnya lebih mudah, ASI saya juga Alhamdulillah lancar walau sempat distop sebentar pemberian ASI-nya karena saya minum obat penurun tensi yang sangat kuat. Selama anaknya sehat dan bahagia, Ibu juga bahagia deh. 

Love comes gradually. Makin lama makin kuat, dan makin sekarang makin nggak terpisahkan deh. 

Love, 
Proud Mom of Agira Nirwana Prameswara

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...