Saturday, March 21, 2015

Menyusui.

Di literatur mana pun yang saya baca, sangat menganjurkan pemberian ASI. Dan literatur-literatur yang menjelaskan mengenai ASI, seolah mengesampingkan kehadiran susu formula untuk bayi. Ya tentu saja, pemberian Tuhan pasti yang terbaik.

Seiring perkembangan kehamilan, saya juga dicekoki dengan pemahaman wajibnya memberikan ASI dan jangan sampai anak saya diberi susu formula. Ya, saya setuju. Kalau saya mampu, tentu akan saya berikan. Saya tahu sih, ada yang sampai mengusahakan mencari ASI dari donor kemana-mana demi memperoleh ASI.

Setelah Gia lahir, apakah saya langsung memiliki ASI? Ya.
Setelah Gia lahir, apakah saya langsung bisa menyusui? Tidak.

Susah bok, menyusui. Bagi saya yang baru sekali-kalinya menggendong orok yang masih merah, dan harus membuatnya bertahan hidup dengan cairan dalam tubuh saya, proses itu sungguh penuh perjuangan. Perasaan yang tercurah melebihi proses melahirkannya, hehe.

Alhasil, selama saya di RS, saya selalu memerah ASI untuk Gia. Syukurlah di RS disediakan pompa ASI, walaupun bentuknya mengingatkan saya pada mainan radio anak-anak, atau mesin cetak PlayDoh yang ukuran besar.

Hasil perahan saya yang pertama sebanyak 10 ml, lalu 30 ml. Saya pikir 30 ml itu bisa untuk tiga kali minum. Ternyata, sekali minum habis! Mana yang bilang bayi nggak perlu minum dalam beberapa puluh jam hidupnya? Hahahaha…

Di hari kedua, karena tekanan darah saya belum turun juga (masih 150/100), akhirnya saya diberi obat penurun tensi yang dosisnya sangat tinggi. Karena khawatir berpengaruh pada bayi melalui ASI, jadi bayi saya dianjurkan untuk diberi susu formula. Saya sama sekali nggak kepikiran mau cari donor ASI. Jadi, Gia sempat mengalami minum sufor beberapa botol, walau masih sambil saya curi-curi disuapi dengan ASI perahan saya. Menurut saya sih, nggak ada masalah kok diberi sufor juga kalau memang terpaksa.  Sungguh.

Sepulangnya Gia ke rumah, saya masih memerah ASI setiap saat. Tabungan ASIP saya bisa dibanggakan, lah. Gia juga makin pintar minum ASIP, baik menggunakan dot, sendok plastik, soft feeder, cup feeder, apapun kecuali menyusu langsung. Tapi, saya selalu optimis kalau setelah satu bulan, Gia akan mampu menyusu langsung pada Ibunya.

Miracle happened. Suatu saat, setelah melewati masa satu bulan, Gia menyusu langsung pada Ibunya dengan lahap. Setelahnya dia tidur kekenyangan. Tapi, dia kenyang setelah menyusu selama… tiga jam. Alhasil, setelah Gia bisa menyusu, timbullah penyakit yang bernama Wasir aka Ambeien. Ya mau gimana, saya nggak bisa menyusui sambil tiduran (dan katanya nggak boleh), dan saya hanya bisa duduk tegak gitu. Sekali lagi, apapun asal anak senang deh.

Selalu ada fase kenaikan tingkat dari satu ke yang lainnya. Setelah sukses membuat Ibu ambeien, akhirnya Gia bisa menyusu sambil tiduran. Sungguh, awalnya saya nggak setuju dengan praktek ini. Tapi, seorang teman sebut saja namanya Yulist, meyakinkan bahwa menyusui sambil tiduran itu adalah surga dunia. EH, BENER LOH!

Saya yang awalnya selalu bermata panda, dan merasa pegal luar biasa di tulang ekor, langsung bisa cerah ceria tanpa kekurangan waktu tidur dan pantat yang walaupun jadi rata tapi enggak sakit lagi. Horeeeeee! Menyusui sambil tiduran itu membantu Ibu beristirahat dan anak puas menyusu (apalagi yang suka nempel lama-lama seperti Gia). Ah, saya nggak peduli dulu deh, kalau ada yang mengatakan tidak boleh. Toh, berbagai ajaran menyusui tetap menampilkan posisi lay down itu sebagai salah satu acuan. Dari breastfeeding community internasional loooohhhh. Percaya aja deh.

Setelah pintar menyusui baik duduk maupun tiduran, lalu apa lagi? Ternyata ada fase yang bernama menempel terus tiada henti kapanpun (terutama malam). Saya ingat betul salah satu artikel dari pranala luar negeri dimana seorang Ibu mengatakan “I’m done becoming a human pacifier,” dimana Ibu itu akhirnya memberikan pacifier alias empeng untuk bayinya. Hello, that’s me now! I’m a human pacifier!

Gia selalu mencari kenyamanan dari tempelan dengan Ibunya. Sampai-sampai, kalau tidur terpisah dari Ibunya, dan tidak menemukan Open Buffet dari susu Ibu, maka Gia akan bangun dan menangis tanpa dapat dihentikan kecuali oleh Ibu. Well, I miss my beauty sleep. Tapi, sekali lagiiii semua literatur mengatakan bahwa menjadi Ibu berarti tidak akan ada tidur nyenyak sampai anak dewasa nanti. Wow, that’s long!

Maka dari itu, banyak literatur juga yang mengajarkan cara menyapih malam hari dan melatih bayi tertidur dengan sendirinya. Saya coba menerapkan pada Gia, ehhhhh kok ya anaknya kalo dibiarkan menangis ya nggak akan berhenti walau sudah berjam-jam. Kalau bangun dan hanya digendong, kok ya usrek-usrek terus mencari susu Ibu. Kalau engga, dia akan melotot sempurna seperti di siang hari. Naaaaakkkkk….

Pada akhirnya, saya tiba pada suatu pemikiran, bahwa anak akan menyusui mungkin hanya sampai usia dua tahun. Atau tiga tahun, mungkin, bila sama-sama mampu. Pastinya tidak akan selamanya. Jadi, dinikmati saja lah selama masih mampu. Selama ASI masih lancar. Selama anak mau.

Gia nggak akan jadi bayi selamanya, Bu…

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...