Saturday, August 2, 2014

Questions You Shouldn't Ask

Terinspirasi sama keengganan dan keberatan teman-teman saya mengenai pertanyaan yang biasa diajukan keluarga, yang biasa disebut "Never Ending Questions", saya jadi kepikiran juga. Nggak cuma selama kuliah ditanya "kapan lulus", habis lulus ditanya "kerja dimana", lalu habis kerja ditanya "kapan nikah", and the bla bla bla. Habis nikah dan hamil pun nggak berhenti. 

Setelah saya merenung keras, ADA BANGET pertanyaan yang diajukan berbagai orang yang sebenarnya:

  1. Nggak penting untuk diketahui mereka
  2. Nggak memberikan nilai tambah dari pembicaraan
  3. Nggak membuat nyaman yang ditanya
  4. Nggak perlu lah ditanya


Jadi, berpegang pada hal itu, brace yourself lah ya para bumil yang MENGIRA bahwa sudah lepas dari "Never Ending Questions" tadi.

Udah Hamil Berapa Bulan?
Percayalah, kalo saya nanya ke orang pun suka lupa. Saya juga yakin kalo ada yang nanya begini (kecuali dia memang sangat perhatian dan menantikan saat kelahiran bayi Anda, atau dia sedang sama-sama hamil), maka ini hanya basa-basi. Karena, bulan berikutnya ketika bertemu, dia akan menanyakan lagi: "Eh, udah berapa bulan sekarang?" 

Anaknya Perempuan atau Laki-Laki?
Nggak salah sih, cuma yang suka nyebelin pertanyaan berikutnya suka begini: "Nggak papa pertama perempuan, nanti yang kedua laki-laki ya?" RITE! YOU KNOW MY EXPECTATION? ANAK KEDUA SAYA KEMBAR LAKI DAN PEREMPUAN.

Mau Melahirkan Dimana?
Apakah Anda ingin membiayai persalinan saya? Kalau ya, jangan sungkan-sungkan untuk menyatakan di awal seiring Anda bertanya. Kalau tidak, lebih baik simpan saja keinginan untuk basa-basi itu. 
Kenapa saya sebel, karena keinginan saya adalah melahirkan di rumah dengan water birth dibantu Bidan. Dan di Indonesia khususnya Ibukota Jakarta yang katanya kota metropolitan ini, pilihan itu bukanlah opsi yang keren dan umum. Sehingga, akan muncul pertanyaan panjang berikutnya. 

Oke, kalau berikutnya menunjukkan ketertarikan tanpa ada pernyataan yang mengadili sih saya seneng aja menjelaskan. Tapi, yang sudah-sudah, ada banget yang komen: "Ih, lo kok aneh-aneh aja sih," atau "Hah? Ngapain lo sama Bidan?". See, that's the reality. 

Jadi lebih aman kalo jawab mau melahirkan di RS? Nggak juga sih. Kalau saya jawab: di RS Asri, berikutnya akan ditanya: "Dimana tuh?" trus komen berikutnya "Kok nggak di RS xxx aja?" 
Dan jangan sedih, ada juga yang komen: "Disana kan RS kecil, mending di sini aja yang besar."
Jaminan gitu kalo RS besar lebih bagus pelayanannya?

Dokternya Siapa?
Apakah Anda mengenal seluruh dokter di Indonesia? Kalau jawabannya tidak, sebaiknya nggak usah basa-basi ini juga. Juga, kalau Anda tidak tertarik beneran. Based on my experience, yang benar-benar tertarik untuk hal ini hanya sesama ibu hamil, ibu yang pernah atau ingin hamil, dan sesama Obgyn. Lainnya, besok ditanya juga lupa.

Bukannya saya nggak suka sharing ya, tapi setelah seratus pertanyaan dan besoknya nanya lagi, haruskah saya terus bersabar? *hiks*

Karena selalu ada yang melanjutkan dengan pernyataan: "Ke dokter ini aja, dia bagus lho..."

Kapan Due Date-nya?
Untuk orang-orang yang hanya bertemu sekali dua kali, nanya due date ini sudah pasti basa basi deh. Memangnya berikutnya akan memberikan kado juga gitu? Hehehe *ngarep*

Udah Naik Berapa Kilo?
Mau tau aja apa mau tau banget? FYI, saya nggak tau udah naik berapa kilo and I stop counting. 
All I know is I gained lots of weight, and my obgyn said that everything's normal (except this month). 
Habis nanya naik berapa kilo, lalu mau pasang expresi gimana? Kalo muka kaget, bakal nyebelin loh... Kalo nggak naik banyak lalu dipuji, seolah hamil dan naik banyak itu salah.

Lalu saya balik tanya sekarang, kenapa nggak ada yang nanya "Mau kado apa?" atau "Perlu apa lagi nih buat bayinya?" Hahahaha... 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...