Wednesday, July 9, 2014

Berkenalan dan Mendalami Gentle Birth

Beberapa hari yang lalu, saya menyambangi lokasi praktek salah satu Bidan yang terkenal di Jabodetabek dengan prinsip Gentle Birth-nya, Bidan Erie Marjoko.

Saya tahu nama Bidan Erie dari teman kakak saya yang juga salah satu Doula, Mbak Hanita, dan juga teman saya yang berhasil menerapkan prinsip Gentle Birth di proses persalinannya beberapa bulan lalu. Teman saya sih nggak melahirkan sama Bidan Erie, tapi di RS biasa yang dokternya bisa memenuhi special request seperti jeda pemutusan tali pusar dan IMD maksimal.

Yang membuat saya tertarik ke Bidan Erie, tentu adalah prinsip yang dijunjung yang sangat mengena di hati. Prinsip Gentle Birth yang memberdayakan Ibu dalam proses persalinan, namun bukan berarti mengesampingkan intervensi medis bila sangat dibutuhkan.

Apa sih yang membuat kita takut melahirkan? Saya pribadi, takut sakit, takut nggak keluar2 anaknya, takut nggak nyaman di RS, dan takut kalo sampe harus Sectio Cesaria (takut bayar juga, hahaha). Saya juga sempat takut meninggal ketika melahirkan.

Setelah memperdalam info mengenai Gentle Birth dan pemberdayaan Ibu, saya jadi merasa yakin bahwa persalinan adalah proses alami yang akan dilalui semua calon Ibu. Dan proses ini secara alami pula akan melakukan usahanya sendiri, tanpa harus dipaksakan dengan induksi dll.

Kembali lagi ke Bidan Erie, Sabtu lalu saya menghubungi Bu Bidan via Whatsapp. Beliau membalas dengan sangat ramah, bahkan mengundang saya untuk ikut kelas Prenatal Yoga. Wah, kebetulan sekali saya memang sedang ingin memulai ikut kelas2 senam dan yoga hamil. Akhirnyaaa saya coba lah.

Jangan dikira klinik Bidan Erie itu fancy dan mewah. Kliniknya sederhana sekali, dan jalan masuknya pun agak meragukan untuk dilalui mobil (tapi muat kok, dan bisa parkir dekat klinik). Tapi, pelanggannya banyak dan materi yang diajarkan sangaaat modern.

Bu Bidan memimpin kelas Yoga sendiri, dan saya langsung cocok dengan suara Bu Bidan. Kalau saya bisa membandingkan, suara Bu Bidan ini setara dengan Mbak Yuli (instruktur Yoga ketika di Bandung, hehehe). Bikin tenaaaaang dan nyamaaaannn banget. Cuma, memang karena ruangan Yoganya tidak terlalu luas sedangkan pesertanya banyak, jadi kurang nyaman ya. Anyway gapapa lah, gratisan juga. Hahaha...

Di sela2 sesi, sambil menunggu Bumil lainnya ke toilet dll (maklum, rata2 udah di atas 30w dan udah susah nahan keinginan buang air), Bu Bidan berbagi info2 menarik. Mulai dari pengalamannya membantu persalinan yang tentu saja beragam, sampai dengan penolakan tenaga medis mengenai persalinan alami.

"Sekarang, hal-hal yang alami dianggap aneh," kata Bu Bidan. Iya sih, orang Indonesia di kota besar pada umumnya lebih percaya pada kemampuan Obgyn dibandingkan Bidan. Bahkan, ketika saya cerita ke teman kantor saya kalau saya bertemu Bidan, reaksi spontannya adalah: "Ih, lo ngapain sih aneh2 aja ke Bidan.."
Emm.. melahirkan di RS umum juga didampingi Bidan kan ya?

Reaksinya lebih heboh lagi ketika saya bilang, "Gw kan nanya2 dulu mbak, soalnya gw pengen ngelahirin di rumah aja. Kalo bisa pake water birth." Dan makinlah dia tertawa atas keinginan saya tersebut.

Ow ow ow... itulah Indonesia.

Dan paaassss banget pagi ini habis Sahur, saya mendapat link dari bulletin Baby Center mengenai "birth plan with midwifes". Di Amerika, bahkan ada perawat yang bersertifikat untuk membantu proses persalinan. Dan kebanyakan Ibu di Amerika memilih bersalin dibantu Bidan karena:
1. Mereka bisa memilih melahirkan di rumah
2. Lebih mendapat dukungan mental sebelum dan sesudah melahirkan
3. Bisa menjalani persalinan dalam air
4. Bisa menghindari intervensi medis yang tidak diperlukan

Pemerikaaan USG juga tidak dilakukan setiap bulan, biasanya baru setelah usia kandungan 18-20minggu. Maksimal dilakukan USG sebanyak 4 kali saja. Bahkan, di negara maju lainnya sangat sulit untuk melakukan janji temu dengan Obgyn dibandingkan Bidan. Beda banget sama Indonesia.

Indonesia itu seperti Amerika tahun 1960-an, yang angka kelahiran dengan proses Sectio sangat besar. Tapi ya, itu pilihan lah ya.
Saat ini sih saya memilih untuk bisa melahirkan dengan Gentle Birth di rumah.

Kenapa sih saya pengen susah2an di rumah?
Yang paling utama, karena saya ingin melahirkan normal dengan water birth, dan tidak harus menjalani intervensi medis yang tidak perlu. Alasan selanjutnya adalah untuk kenyamanan. Yakin deh, senyaman2nya RS tetap saja tidak akan senyaman di rumah sendiri. Khusus untuk saya, karena saya ingin bisa mandi dan keramas sepuasnya tanpa diatur oleh dokter dan suster, hehe...

Water birth bukannya nggak boleh? Iya, memang ada anjuran bagi para Obgyn. Bukan dilarang, tapi tidak dianjurkan. Lalu kok saya percaya? Bu Bidan Erie ini sudah bersertifikat IWBA (International Water Birth Association) yang setahu saya ikut pelatihannya saja muahal buanget. Tentu saja untuk plan B tetap saya akan mempersiapkan RS untuk rujukan bila (jangan sampe) terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Besar kemungkinan saya akan minta sepupu2 yang Obgyn untuk stand by, hehehehehe...

Baiklah, kira2 saat ini saya masih yakin dengan proses ini, karena paling pas dengan hati. Nggak salah kok dengan proses lainnya, kembali lagi ke pilihan Ibu dan keluarga. Saya juga bukan ahli di Gentle Birth, referensi saya adalah buku2 bacaan dari Bu Bidan Yessie dan Hypnobirthing dari Bu Lanny Kuswandi. Tentu artikel2 tambahan di internet juga cukup membantu ya. Mudah2an lancar dengan pilihan ini daaaannn sukses menerapkan prinsip Gentle Birth ♥

Melahirkan itu nggak perlu menyakitkan dan traumatis :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...