Saturday, April 6, 2013

Falling into.

Sejak dulu kala, saya selalu beranggapan bahwa pertemanan antara laki-laki dan perempuan itu bisa tidak dicampur dengan perasaan tertentu (baca: cinta). Saya nggak pernah sama sekali punya rasa ingin memiliki atau nafsu seksual terhadap teman-teman lelaki saya, singkatnya ya perasaan cinta lah.

Sampai akhirnya, hubungan pertemanan saya dengan seorang lelaki berubah menjadi hubungan yang lebih rumit, dan mengikutsertakan perasaan.

Saya kenal si orang ini sejak pertama kali masuk ke bangku kuliah. Kebetulan geng-nya dia biasa nongkrong tepat di depan pintu kosan saya. Nggak cuma saya sih yang kenal, tapi juga beberapa teman kosan yang lain. Saya yang lugu ini sih senang-senang aja punya teman baru yang bisa akrab dan membantu proses pengenalan dunia kampus. Hahaha...

Kita juga bisa dibilang nggak pernah jalan bareng. Akrab sih iya, tapi cuma sekedar ngobrol bareng atau makan di dekat kosan aja. Itupun nggak eksklusif. Yah, saya kan anaknya akrab sama siapa aja yaaa.

Selama 8 taun kenal dan temenan, kayanya saya malah sering merasa annoyed dengan si orang ini. Hahaha...
Yah, saya selalu menghindar kalau tahu ada laki-laki yang berniat lebih dari teman dengan saya :p
Setelah dia lulus kuliah (dia 4 tahun lebih tua dari saya) kita nggak pernah ketemu lagi. Sekedar BBM atau email aja sih pernah, tapi nggak ketemu sampai tahun 2011 (iya ya?) kita ketemu lagi.

Kita juga nggak ada apa-apa sih sejak ketemu pertama sampaiiii ketemu berikutnya di tahun depannya. Hahaha... Took too many times before we are getting into this complicated thing.

Yang saya ingat, interaksi saya dengan dia paling banyak karena saya sering minta bantuan untuk desain. Ya desain untuk kerjaan kantor, kerjaan sosial, pokoknya kerjaan lah. Pintarnya saya, saya selalu merasa beruntung ketika mendapatkan bantuan secara cuma-cuma. Padahal semua juga tahu, kalau di dunia ini nggak ada yang gratis. Hahaha... Begonya saya, saya nggak sadar tentang hal itu. I trully think about friendship, not friendzone.

Suatu hari, ketika saya sedang bersama sahabat saya yang bernama Tika, dia menghubungi saya. Minta dikenalin sama Tika, katanya. Saya sih bahagia banget, karena memang salah satu visi dan misi saya saat itu adalah untuk mendekatkan Tika dengan laki-laki :D

Singkat kata singkat cerita, akhirnya Tika dan dia berhubungan baik. Saya nggak berani bilang berhubungan lebih jauh karena saya nggak tahu deh mana yang jauh mana yang dekat. Sayangnya, kisah mereka nggak berjalan mulus layaknya kisah sinetron. Ternyata mereka hanya cocok berteman saja.

Nah, pada masa perjodohan dengan Tika itu lah saya merasa lebih aman untuk menjalin hubungan lebih akrab dengan dia. Karena saya rasa nggak mungkin dia akan deketin saya, kan lagi deket sama temen saya. Begok.

Mulai dari ngobrol santai, sampai jadi rutinitas untuk ngobrol sama dia. Nggak tau apa, tapi rasanya nyaman aja. Saya merasa dia teman yang asik sekali, karena bisa saya culik kapan saja dan bisa saya curhatin apa aja. Termasuk curhat plus konsultasi cara deketin gebetan hahaha. Dan sarannya berhasil. Hahaha...

Nggak tahu kapan mulainya, saya mulai merasa agak aneh sama dia. Yaa seaneh orang-orang yg lagi melakukan pendekatan gitu lah. Lucu-lucu nyebelin. Banyakan nyebelinnya, krn pake acara ngambek-ngambekan segala. Temenan tapi kok pake ngambek...
Sampai akhirnya dia menanyakan kejelasan status hubungan kita. Pacaran atau engga?

Natural reaction saya untuk segala sesuatu adalah tertawa. Untuk pertanyaan yang satu itu, entah kenapa saya ketawa super geli. Setiap mau ngomong, bawaannya pengen ngakak. Ya gimana, masa ditanya gitu sama temen sendiri. Mamam tuh temen!
Saya lupa berapa lama saya ketawa, sampai akhirnya saya mendapat wahyu dari Allah SWT untuk mengiyakan ajakan dia untuk berkomitmen. Syaratnya, jangan buru-buru saya untuk menikah. Saya nggak siap.

Perlu waktu sekian lama untuk saya benar-benar sadar bahwa saya punya pacar. Nggak ada yang berubah sih dari pertemanan kita, hanya kadang diselingi desiran-desiran aneh dan sakit perut tak berkesudahan ketika berinteraksi dengan dia. Tapi untuk menikah? Tunggu dulu bung. Jalan masih panjang.

Ternyata bukan cinta yang pada akhirnya menyadarkan saya untuk menikah. Bukan juga usia. Dulu, saya setengah mati menolak dia dengan alasan logika, dan dia setengah mati memaksa saya dengan alasan cinta.
Sekarang justru logika yang membuat saya yakin untuk menikah dan cinta datang berikutnya.

Rasa nyaman, kebisaan untuk bicara seenaknya, dan bertingkah sesukanya ternyata sangat berarti. Sepertinya itu yang paling penting dimiliki untuk bisa bertahan hidup dengan satu orang sampai maut memisahkan. Nyontek kata-kata dia, teman yang paling dekat itu adah suami atau istri masing-masing :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...