Thursday, November 15, 2012

menjadi balok dan mengikuti aliran sungai

Semalam, hujan rintik-rintik membasahi kota Jogja. Saya menembus malam di dalam sebuah becak. Dingin...

Berharap adanya keriuhan di malam 1 suro (malam tahun baru Hijriah) semalam, nyatanya tidak ada yang luar biasa. Hanya warung-warung lesehan dan para pedagang Malioboro yang seliweran membereskan dagangannya. Suasana tenang, khas Jogja yang saya kenal dulu.

Sejujurnya, mau seberapa kuat saya mencoba untuk memfokuskan pada apa yang saya jalankan dan apa yang saya lihat, tetap saya ada kamu dalam pikiran saya. Norak, tapi begitulah kenyataannya. Dan saya tidak suka! Cape. Memangnya kamu nggak cape lari-lari di pikiran saya? (maaf kalo saya jadi gombalwati).

Saya teringat, hari pertama saya melangkahkan kaki keluar rumah di hari Minggu. Betapa senangnya saya akan kesibukan yang menanti di depan mata, tapi ternyata...kesibukan itu tidak mampu menghilangkan pikiran tentang kamu. Hahaha... Kasihan sekali saya.

Ketika menjejakkan kaki di bandara, saya sudah membayangkan akan melakukan seribu kegiatan yang berguna bagi nusa dan bangsa, atau setidaknya untuk mengalihkan perhatian saya. Nyatanya? Saya sibuk memikirkan kamu. Dan bagai mendapatkan berlian di tengah hutan (ada ga sih peribahasa itu?), kamu juga menghampiri saya. Kenapa sih, kamu kok nggak mau hilang sebentaaar saja?

Seiring pesawat lepas landas, saya sudah siap melandaskan harapan saya untuk hilang ke atas awan. Pemandangan indah lampu-lampu kota yang kemudian berganti gelap ternyata justru membawa pikiran saya jauuuh sekali...ke kamu. Begitulah kamu di mata saya saat ini, seperti pemandangan lampu itu. Begitu indah, nyata, tapi tidak dapat saya gapai. Entah karena saya berada di dalam pesawat, atau karena memang saya tidak berusaha untuk menggapainya kesana. Dan saya berusaha memejamkan mata, lagi-lagi dengan bayangan kamu yang menari-nari. Kamu nggak cape?

Hari kedua saya di Jogja, hari pertama saya bekerja. Saya sudah siap menghadapi puluhan peserta dan menyibukkan diri untuk melenyapkan kamu. Tapi hati dan pikiran memang nggak bisa sinkron. Otak mengatakan berhenti, hati malah menggerakkan tangan untuk menghubungi kamu via sebuah pesan singkat. Dalam sekejap, mengalirlah pembicaraan seru di pagi hari. Tapi, hanya itu. Dan saya bertekad tidak mengulanginya lagi, hehe..

Hari itu, ada sekitar 50 lebih peserta yang menghadiri tes, dan terbagi dalam lima waktu diskusi. Sibuk kan, saya? Diakhiri dengan tes tertulis selama kurang lebih dua jam. Tapi, saya tidak merasa lelah. Fisik saya tidak lelah, pikiran saya iya. Karena lagi-lagi kamu! Kalau saya boleh mengumpat, saya akan mengatakan "Brengsek, kamu!".

Memasuki hari ketiga, saya akan melakukan interview beruntun dengan sekitar 16 peserta. Seharusnya saya sibuk, sangat sibuk dan tidak dapat melakukan kegiatan selain pekerjaan. Saya sudah menahan diri tidak menghubungi kamu sejak semalam, tetapi pertahanan saya justru runtuh karena sebuah pesan singkat dari kamu. Kamu lagi!
Saya tidak dapat memahami rencana apa yang sedang dibuat oleh Gusti Allah bersama alam semesta. Yang saya tahu, di usia dan pengalaman saya yang sudah seperti ini (ciye yang pengalaman, nggak kaya Tika--saya akan bercerita tentang Tika, nanti) ternyata saya masih mampu dibuat jungkir balik. Saya tidak kuasa membalas, melawan, bahkan menghindar. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk ikut dalam permainan alam semesta saja.

Proses interview berjalan lancar tanpa ada hambatan. Kegiatan yang nyaris saya lakukan secara otomatis ini ternyata menjadi semakin melelahkan, karena kamu selalu muncul di saat-saat senggang otak bagian kanan-kiri saya. Dan oleh karena otak saya senggang secara bergantian, kamu muncul bergantian pula hingga akhirnya menjadi setiap saat. Bravo! Kerja hebat Gusti Allah dan alam semesta! (Kali ini Gusti Allah dan alam semesta juga mengirimkan rekan-rekan saya untuk menghantui saya dengan pesan-pesan singkat mereka tentang, kamu!).

Malam hari, saya dan rekan kerja saya memutuskan untuk makan malam di daerah yang cukup jauh. Sebenarnya sih untuk memuaskan kecintaan dia akan masakan disana, dan nostalgia zaman pacaran dengan suaminya dulu sepertinya. Saya sih, nurut saja. Toh, tidak ada yang akan saya kerjakan dan tidak ada yang saya inginkan juga pada saat itu (kecuali kamu).

Harapan untuk menyingkirkan kamu sejenak dari malam saya yang seharusnya indah, menjadi sia-sia. Rekan saya justru membawa topik mengenai kamu ke hadapan saya. Telak! Mana mungkin saya menghindar?
Seperti tidak ada topik lain, saya melayani pembicaraan mengenai kamu (walau terpaksa). Dan apa yang dikatakan rekan saya mengenai kamu, saya amini seluruhnya. Mengenai gerak-gerik kamu, perilaku kamu, hingga kelakuan kamu! Hahaha... Kali ini saya menyerah. Kalian semua menang, Gusti Allah, alam semesta dan rekan-rekan saya. Saya akan menjadi balok kayu yang mengambang di sungai, dan mengikuti aliran sungai saja. 

Hari keempat, kerja terakhir di kota ini.  Saya sibuk! Otak saya sudah sibuk sejak malam hari, ketika kamu mengirimkan pesan terakhir di malam itu. Oh, dan pagi ini. Ketika kelap-kelip lampu di telepon seluler saya menunjukkan adanya pesan singkat yang masuk. KAMU! Iya, saya akui saya senang membaca pesan-pesan kamu, walaupun tidak ada artinya juga. Tapi, saya ingin rehat sejenak agar saya bisa berpikir jernih. Atau, setidaknya ijinkan saya memperoleh petunjuk dari Gusti Allah mengenai hal ini.

Saya bekerja mulai pukul 08.30 sampai pukul 17.00. Saya lelah, namun puas dapat menuntaskan tugas kerja saya selama tiga hari berturut-turut ini. Kamu? Mungkin kamu puas menari-nari dalam pikiran saya selama ini. Malam itu saya putuskan untuk melakukan sesi massage, untuk menyegarkan jiwa dan raga.

Sumpah, baru sekali itu saya mengalami sesi massage yang diiringi lagu-lagu top40 terpopuler di Indonesia. Mulai dari Wali, Sherina, Smash... you name it! Griya pijat rekomendasi rekan kerja saya ini ternyata tidak sesuai harapan saya. seharusnya saya mengikuti intuisi saya untuk tidak mempercayai rekomendasinya lagi, hahaha... Tapi yah, nasi sudah menjadi karak, sebaiknya diselesaikan saja apa yang sudah dimulai (ups...).

Selama sesi massage, saya tertidur. Cukup pulas, dan kamu tahu? Kamu ada di bayangan saya, di mimpi saya malam itu, dan dalam nyanyian saya.

Perjalanan pulang yang saya tempuh dengan becak, terasa dingin dan sepi. Jalanan Malioboro yang saya harapkan riuh ramai, ternyata hanya diisi oleh warung-warung lesehan dan pengunjung seadanya. Pedagang kaki lima juga sudah merapikan dagangannya, dan bersiap pulang. Tampaknya memang alam semesta tidak ingin saya lenyap dalam keriuhan malam 1 suro (malam tahun baru Hijriah). Saya tidak menemukan keramaian apapun!

Hujan rintik-rintik yang membasahi sebagian kaki saya menambah dinginnya malam itu. Akhirnya, saya berhasil memikirkan hal lain, selain kamu. Saya memikirikan bapak tukang becak, yang mengenakan celana pendek dan kaos lengan panjang seadanya. Pak, apa nggak kedinginan, Pak?
Kayanya dingin-dingin gini enaknya tidur selimutan ya, Pak? Kalau saya sih enaknya jalan bergandengan dengan siapapun itu yang badannya bisa menghangatkan saya, Pak. Ups.. Pasti ini akibat saya berpapasan dengan pasangan yang bergandengan, hahaha...

Dering telepon membuyarkan lamunan saya malam itu. Seorang rekan kerja saya sedang berada di lounge hotel tempat saya menginap. Kebetulan dia juga menginap disana.
Saya bergegas menemui dia, lumayan ada teman ngobrol, jadi tidak perlu bengong-bengong ria memikirkan kamyuuu...

Oh, kamu nggak rela ya kalau saya berhenti memikirkan kamu? Bisa-bisanya pesan singkat kamu masuk di saat saya sedang sibuk dengan hal lain, hahaha... Hingga akhirnya kamu menghilang lagi di tengah tumpukan awan dan domba yang saling berhitung. Ya, kamu tertidur.

Saya menghabiskan setengah malam di lounge yang terletak di rooftop hotel. Seorang penyanyi jebolan kontes pencarian bakat di sebuah tv swasta mengambil alih posisi penyanyi home-band. Memberikan warna yang cukup indah pada malam itu. Iya, suaranya beneran indah.

Tidak sampai lounge tutup, saya turun ke kamar. Sebenarnya lebih karena rekan saya sudah ditunggu oleh teman sekamarnya (yang juga rekan kerja yang lain). Bukannya tidur, saya malah membuka laptop dan menuangkan tulisan mengenai kamu. Iya, semalam saya juga sudah menulis tentang kamu. Tapi untuk materi nanti ya, saya ingin menuliskan novel tentang hidup saya dan Tika (lagi-lagi, dia yang akan saya ceritakan nanti).

Hampir pukul 2 pagi saya baru tidur, dengan sedikit harapan bahwa saya hadir di mimpi kamu.

Pukul 5.30 saya terbangun, solat, dan menemukan pesan singkat dari kamu. Saya tersenyum, dan tidur kembali. Tapi tidak sampai siang, saya hanya sanggup tidur sampai pukul 7.30.
Kalau kata kamu, jiwa pekerja saya membuat saya segar di pagi hari, hahaha...

Sungguh, saya tidak lari kemana-mana selama ini. Raga saya memang berada pada jarak ratusan kilometer dari kamu. Tapi, pikiran saya tertinggal disana.
Oleh karena rasa itu, saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta seperti rencana awal, di sore ini. Tidak ada gunanya saya pergi saat ini, kalau pikiran saya tidak dapat beristirahat, hahaha.

Saya akan kembali, ke tempat yang saya tinggalkan. Saya tidak akan kabur, karena saya siap menghadapi apapun itu. Siapapun yang saya temui di Jogja, dan memberikan saya pengalaman dan pemikiran baru, meyakinkan saya bahwa ini harus dihadapi.

Pada akhirnya, saya memutuskan ikut permainan ini sepenuhnya. Apapun yang saya lihat dan rasakan, biarlah menjadi warna hidup saya yang akhirnya dapat saya ceritakan pada...Tika.

(Tika, nama sebenarnya, merupakan tokoh semi-utama dalam kisah-kisah saya berikutnya).

Jogja, 15 November 2012
1 Hijriah.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...