Thursday, November 15, 2012

Getaway

Pemandangan dari jendela pesawat malam itu sungguh indah, gemerlap lampu ibukota yang temaram tampak berkelap kelip. Suatu harta berharga yang membuat saya sangat mengidolakan perjalanan udara malam hari. Dalam sekejap pemandangan itu berganti hitam, gelap dan kelam. Dan saya berusaha memejamkan mata untuk tidur.

Sayangnya, bayangan mengenai hal-hal yang saya tinggalkan di ibu kota tidak dapat menghilang. Perjalanan ke Jogja yang direncanakan menjadi combo kerja + kabur dari dunia nyata, malah diawali dengan pemikiran yang sangat rumit. Ternyata, gemerlap lampu itu membuat saya semakin menyadari mengenai dia, sama-sama tampak indah tapi dalam sekejap juga menghilang. Ibaratnya, boleh dilihat tapi jangan dipegang.

Dulu, saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya mengalami quarter-life dilemma. Kalau kebutuhan pribadi sudah tercukupi, untuk apa membutuhkan yang lain, kan? Nyatanya tidak. Seperempat abad saya sudah hampir usai, dan ternyata saya bahkan belum menemukan apa yamg saya inginkan dalam hidup saya. Karir kah? Cinta kah? Materi kah? Nggak tahu!

Saya kabur dari apa? Nggak tahu juga.

Saya hanya tahu bahwa pada saat itu, saya butuh suatu kepastian. Tapi kepastian apa? Masih belum tahu juga. Yah, saya memang serba nggak tahu, apa yang saya mau dan apa yang saya tidak mau.

Ketika pesawat hampir mendarat, pemandangan serupa datang lagi. Hamparan lampu yang indah dari kota Jogjakarta. Kota persinggahan sementara saya, untuk menenangkan diri dari entah apa itu.
Lampu-lampu mulai mendekat. Seketika saya sadar, apapun itu yang jadi pusat pemikiran saya, tampak indah dari jauh seperti lampu-lampu. Ketika mendekat, akan tampak bagaimana rupa sebenarnya. Tapi, tidak akan pernah saya raih kalau saya tidak mendekat. Apapun itu. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...