Friday, November 4, 2011

Not Recommended Restaurant: Blue Ocean Cafe, Pangkal Pinang - Bangka

I write it because I hate it so much!
Bukan karena makanan, atau karena harganya, tapi karena pelayanannya yang a big No No.

Saya akan menjelaskan mengapa saya begitu membenci cafe yang konon baru dibuka selama tiga minggu, setelah sebelumnya cafe atau restoran apapun yang berlokasi di lahan tersebut bangkrut semua.

Kisahnya baru saya alami minggu lalu, hari Sabtu malam, 29 Oktober 2011. Saya baru saja tiba hari itu, untuk menghadiri pernikahan sepupu saya. Yaa...keluarga besar sih, jadi tersebar dimana-mana :D
Singkat kata, malam hari itu saya ingin merasakan suasana kota Pangkal Pinang yang berbeda, dimana biasanya saya jajan Mi Koba, otak-otak, pempek, atau Martabak khas Bangka.

Di perjalanan, tak sengaja saya melihat cafe yang cukup atraktif dan eye catching bernama Blue Ocean Cafe. Aha! Jarang-jarang nih ada cafe sedemikian menterengnya di jagad Pulau Bangka. Saya putuskan ke sana, bersama Ibu dan Bude saya.

Tampilan luar dan dalam cafe tersebut memang sangat menarik. Ada gasibu-gasibu dari kayu, dengan furnitur kayu pula. Selain luas, eksotisme Indonesia juga terasa sekali. Beberapa barang antik turut menghias dekorasi cafe.

Setelah memesan minuman dan makanan (yang hampir semuanya adalah selera internasional), kami bertiga menikmati suasana cafe. Berhubung ada acara ulang tahun di waktu yang bersamaan, suasananya memang jadi sangat sangat ramai. But it's fine. Tak lama, minuman datang. Masalah pertama datang. Ketika saya tanyakan pada pelayan laki-laki yang melayani kami, "ini minuman apa?" karena minuman yang kami pesan namanya aneh2. Si pelayan tersebut hanya memandangi kami bergantian, tanpa tersenyum dan tanpa penjelasan sambil berkata "ini jus alpukat". Wah, kami tidak pesan jus alpukat! Lalu kami bilang, "pesanannya nggak ada jus alpukat, mas". Lalu dia balik bertanya, "memang pesan apa?". Setelah saya jawab nama minuman yang dipesan, dia hanya menyodorkan minuman tanpa penjelasan.

Satu jam-an kami menunggu, makanan tak kunjung tiba. Dan saya memanggil pelayan yang melintasi meja kami. Seorang wanita.
"Mbak, saya sudah pesan satu jam makanannya kok nggak keluar-keluar ya?"
Si mbak itu, tanpa menjawab apapun, ngeloyor ke arah dapur. Dalam hati saya, wah dia ngecek nih..
Ternyata saya salah, saudara-saudara. Mbak-mbak itu keluar bersama mas-mas yang pertama, dan mereka menyodorkan buku menu pada kami, "silakan pesan," katanya.
Kami tentu tidak terima dan berkata, "lho, kita kan sudah pesan daritadi, Mbak."

Alasan sederhana namun bodoh keluar dari mulut pelayan tersebut: "Pesanannya tidak ditemukan di dapur, hilang."

Sudah gila ini, pikir saya. Saya langsung minta diambilkan bill saja. Toh, makanan saya belum dibuat, dan bila baru akan dibuatkan kapan saya makannya? Udah nggak napsu!

Ternyata, bill pun tidak kunjung diantarkan. Sampai Ibu saya akhirnya memasuki ruang cafe untuk menemui manager cafe. Harapannya tentu mendapat penjelasan dan perlakuan yang lebih baik. Ternyara, BIG NO NO! Manager yang ditemui Ibu saya, hanya berkata: "oh, ibu mau dibuatkan sekarang makanannya?"
ALAMAAAKKK! Ini benar-benar gila. Ketika Ibu saya berkata bahwa tidak usah, dan kami akan pergi, si manager tersebut hanya berkata "terima kasih, Bu."

Sampai disini, jiwa kesabaran saya mulai hilang. Saya mulai naik pitam, dan saya kembali masuk keruang dapur untuk menemui manager cafe tersebut. Beberapa pelayan yang saya minta panggilkan, tidak bergeming. Ditanyakan managernya mana pun, tidak ada jawaban. Hanya menunjuk perempuan berbaju biru yang membawa-bawa piring. Saya pikir dia pelayannya.

Saya tanyakan, "Ini bagaimana Bu, managernya mana? Saya mau complain." Dia mengacuhkan saya. Menoleh pun tidak! Olala...perlakuan ala Indonesia bagian mana pula ini? Saya kira I love the Blue of Indonesia, dengan penduduknya yang ramah.

Saya beralih ke kasir, dan sempat menegur pelayan laki-laki yang di awal mengantarkan minuman untuk saya. Saat itu dia melengos. Kurang ajar, pikir saya. Saya katakan pada dia: "Mas, kalau ada yang seperti ini lagi, ada baiknya minta maaf dulu ya. Nggak sopan, tau!" Biar! Biar semua tau kalau pelayanannya busuk.

Beberapa tamu melihat dan berbisik-bisik. Biar saja tidak nyaman, biar pulang semua! Hahaha...

Sempat saya mengambil kartu nama. Walau tanpa harapan akan mendapat layanan yang lebih baik, tak ada salahnya mencoba menghubungi nomor tersebut. Saya tidak telepon, melainkan sms (setelah tiba di rumah). Karena saya ingin ada bukti nyata dari apa yang saya alami. Kalau sial, ya bakal dimaki-maki kali ye. Dan saya bisa lapor ke YLKI!

Berikut rekap sms saya:

"Ibu Iin, saya Rani dari Jakarta. Malam ini saya duduk di meja no 63 dan tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Makanan saya tidak keluar setelah satu jam dipesan. Dan yang lebih menjengkelkan adalah tidak adanya customer service yang baik ketika kami complain. Apabila Ibu adalah manager yang tadi bertugas, ibu tidak ada bedanya dengan pelayan yang lain. Fungsi manager salah satunya menangani hal-hal seperti ini. Apabila ibu sendiri tidak tahu bagaimana cara melayani pelanggan, lambat laun bisnis ibu akan hilang. Satu-satunya karyawan yang menanggapi dengan baik adalah security. Mohon diperhatikan!"

Jawabannya:
"Ibu yang terus menerus cancel bukan kami tdk layani. Maaf"

Saya balas lagi:
"Saya sudah tunggu satu jam, Ketika kami tanyakan malah diminta utk order ulang. Maaf bu, ibu baru saja menghancurkan bisnis ibu sendiri."

Dia diam? Tidak. Dia balas lagi:
"Itu menurut ibu, tidak menurut yang lain. Maaf, saya tidak ingin tanggapi ibu. Selamat malam."

Is it customer service?
Inikah Indonesia yang ramah dan terkenal dengan pelayanannya?

Saya balas kembali:
"Bu, saya sudah menunggu satu jam. Silakan ibu kroscek dengan orang yang melayani kami ada beberapa orang berbeda dan mereka bilang order kami hilang. Kami disuruh order ulan! Saya cancel karena sudah satu jam tanpa konfirmasi. Bahkan bill juga kami yang minta dan kami yang menghampiri untuk membayar. Thanks."

Balas dia:
"Mohon maaf karna kondisi resto kami full. Tapi saya sangat bangga denga kerja keras staf2 saya. Saya tau mereka..dan kalo ada miss itu hal yang bisa saya maklumi. Buat ibu secara management blue ocean kami mohon maaf."

Sampai disini saya stop. Tidak ada gunanya bicara dengan batu.
Bagi saya, once you hurt me, you won't get me back to you. Aih...

Si ibu itu stop? Tidak.
Dia kirim lagi ke saya: "Mohon ibu tau saya bukan manager blue ocean, tapi saya pemilik blue ocean."

Ada yang aneh disini?
Haha...

Bagi saya sangat aneh. Dia pikir saya takut kalau dia pemilik blue ocean? Sama sekali tidak.
Saya sudah tahu hal ini sejak awal saya kirim sms. Sepupu saya mengenal dua pemilik lainnya. Jadi, ibu Iin ini bukan pemilik tunggal. Saya mau saja menginformasikan pada pemilik lainnya mengenai hal ini, agar tidak terjadi hal-hal yang lebih menyebalkan nantinya.

Itulah sisi "ramah" Indonesia lainnya. Kalau pemilik, lantas jadi berkuasa?

4 comments:

  1. Hhaha iya nih, pengalaman buruk di pulau sebrang. Sayang banget, padahal kalo dia managementnya bagus, bs jadi aset wisata kan..

    ReplyDelete
  2. mungkin itu keunikan dari Blue Ocean Cafe... ato mungkin bisa diganti ajah tuh namanya jadi Kafe KOPLAK.... salam kenal...
    ^_^

    ReplyDelete
  3. Trims buat sharingnya...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...