Friday, July 15, 2011

kehidupan selanjutnya

Beberapa waktu terakhir ini saya dan Ido sering bicara mengenai kehidupan yang selanjutnya. Bukan di akhirat sih, tapi jenjang hidup berikutnya setelah berkarir dan memasuki usia dewasa. Ga kumpul kebo juga sih, soalnya bau. Jadi, itu adalah namanya apa? (gamau nyebut kata yang dimaksud)

Bagi saya, kalo masih nggak mau nyebut namanya aja berarti saya belum siap. Dan memang iya sih, saya belum siap. Belum persiapan, men! Seenggaknya, sampe lulur penganten saya yang satu kilo itu habis dan menghasilkan kulit yang lembut, dan sampai masker kiwi yang saya punya juga saya gunakan dan mencerahkan kulit saya (juga mengurangi minyak di wajah).

Saya nggak bisa generalisasi arti pernikahan pada setiap orang (nah, kesebut). Cuma, yang sata tau, saya suka senewen kalo temen-temen deket saya ngomongin suami atau istrinya. Suka ngiri kalau temen-temen saya itu jadi lebih akab sama suami atau istrinya (yaiyalah bego). Dan yang paling geblek adalah saya jadi merasa sepi kalau lagi sendirian. Kayanya ini sih efek iri, ya.

Most of temen-temen saya yang udah nikah pada bilang mereka HEPI BANGET abis nikah. But sebenernya, pada kenyataannya, saya menemukan beberapa contoh dekat yang kehidupan pernikahannya nggak menarik dan tampak fake. Buat saya, kalau nggak akan long lasting buat apa? Apa mau fake terus? (lah, emosi... hahaha)

Whatever lah, whenever juga. Kalo udah saatnya juga pasti saya akan post beritanya disini. (kayanya sih setelah lebaran) (gosip abis) (padal boong).
Yang pasti saya mau nabung dulu buat nikahan supaya bisa buat pesta sesuai keinginan :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...