Saturday, April 16, 2011

First jobber story

Dear youngsters,

I know that it's not easy to face the real life situation like this. Apalagi, as far as I know, if your first job is not what you want.

Saya mendapatkan informasi dari beberapa teman, mereka memiliki idealisme tersendiri ketika kuliah. Ada yang ingin jadi pengusaha, jadi creative director, jadi professional muda, dan entah apa lagi yang bisa diimpikan oleh anak-anak muda berprestasi macam mereka. Ketika lulus, mereka masih mengikuti idealisme tersebut.

Ternyata, setelah dua-tiga bulan mencari kerja dan tak kunjung bersua, akhirnya idealisme itu melemah. Pada akhirnya, pekerjaan apa yang muncul menjadi idealisme berikutnya. Kalau boleh saya simplify, "apa aja deh, gw mau. asal gw kerja aja udah sukur..."
Beberapa alasan lain juga menjadi penyebab mengapa mereka menerima suatu pekerjaan. Mulai dari kebutuhan untuk penghidupan, tekanan lingkungan dimana orang tua sudah meraung-raung dan berharap penuh anaknya segera bekerja (terutama menjadi pegawai negeri), serta iri karena melihat rekan seumuran sudah "tampak" sukses dengan kehidupan bekerjanya.

Memang tidak dipungkiri bahwa masih ada mereka-mereka yang berhasil mengejar idealisme, dan hidup bersama idealismenya tersebut. Tapi kok masih ada ya, diantara teman saya itu yang mengatakan "ternyata kerja begini nggak sesuai dengan khayalan gw..."
Ladies and gentlemen, menjalankan apa yang diinginkan memang tidak selalu seindah bayangan. Begitu pula dengan menjalankan yang bukan dibayangkan bukan berarti tak seindah keinginan...

Beribu alasan bisa dikeluarkan manusia untuk menjelaskan mengapa mereka bekerja. Dan seribu satu alasan bisa dikeluarkan juga untuk mengatakan mengapa mereka tidak menyukai pekerjaannya. Dilema yang wajar, tapi tidak perlu selalu dipikirkan. Karena, semakin dipikirkan akan semakin tidak suka dengan pekerjaan tersebut. Setidaknya itu menurut saya.
Sekarang coba, acungkan tangan bagi kalian kalian yang masih dalam tahap pencarian kerja, merasa menyesal seribu sesal karena tidak menuruti kehendak orang tua untuk mengambil kuliah kedokteran? Segitu desperate-nya sampai berusaha mendapatkan pasangan hidup dokter juga? Hehe...

Atau, merasa bahwa pekerjaan sekarang TIDAK sesuai dengan apa yang diharapkan? Atau yang dibayangkan? Let's say, keinginan kalian adalah menjadi musisi atau seniman dan yang dikerjakan saat ini adalah menjadi staff HRD di suatu perusahaan formal yang mengharuskan kita untuk bekerja 8-5? *bukan curcol, sungguh* *yaa...kalo dianggap curcol juga gapapa...*

Tipe berikutnya yang akan mengacungkan tangan adalah, bagi mereka-mereka yang bekerja pada perusahaan yang diharapkan, tapi ternyata pekerjaannya tidak seperti yang dibayangkan. Yah, banyak lah yang menjadi alasannya, mulai dari gaji yang dianggap tidak kompetitif, atasan yang menyebalkan, waktu kerja yang menyita hidup, ataupun pekerjaan yang dirasa berat dan tidak sesuai dengan posisi saat ini.

Yakinlah, bahwa Anda tidak sendiri dalam merasakan hal ini, dan mengalami hal ini. 
Saya bukannya bilang bahwa tidak ada orang yang bahagia dalam menjalankan kehidupan bekerjanya, ya. Banyak juga kok yang happy happy 2000 dan menjalankan hidupnya dengan enteng karena pekerjaan dan harapan yang sesuai. Bahkan, kadang yang mereka dapatkan melampaui apa yang mereka doakan. Walau memang, saat ini justru yang sering masuk ke kuping kanan dan kuping kiri saya adalah yang bernada keluhan.

Kalau boleh saya berpidato sedikit, saya akan mengatakan wajar saja bagi manusia untuk mengeluh. Wajar bagi anak muda untuk mengharapkan sesuatu yang lebih tinggi dari apa yang mereka miliki. Dan wajar pula, kalau rumput tetangga akan selalu lebih hijau. 

Nggak salah kok, kalau masih memiliki mimpi dan keinginan untuk menjadi something. Karena, hal itu akan memacu kita dalam mengejarnya. Dan biasanya, kalau punya keinginan yang besar, akan gigih banget dalam mewujudkannya. It's a positive minded person! Look at the bright sight juga, dengan belajar yang nggak enak-enak, pada akhirnya akan terbiasa dalam menghadapi uncomfortable condition. Pada akhirnya lagi, we will be stronger than before, dengan bekal pengalaman yang lebih besar dan pasti akan mendukung keinginan kita itu. Juga, percayalah bahwa tidak ada hal yang sia-sia.

Pada bagian ini, saya hanya akan meng-encourage mereka-mereka yang beraura positif. Bab berikutnya, akan saya bahas mengenai mereka-mereka yang memandang masalah uncomfortable condition ini dengan sikap negatif. Sehingga, pada akhirnya menjadikan mereka orang yang sinis, tidak perform, serta menutupi jalan kesuksesan mereka kemudian *biar rada horror, hahaha*

2 comments:

  1. comment :
    Menarik & Keren :)
    Lanjutkan mba! :)

    ReplyDelete
  2. Jadi malu aku... Hehehe
    Sayangnya utk menulis kaya gini juga gabisa asal tulis lalu jadi ya :p
    Ditunggu aja yaa posting berikutnya ;)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...