Thursday, November 25, 2010

ketika sesuatu hilang....

Kalau ada yang merasa bahwa terjadi sesuatu pada saya dan hubungan percintaan saya, maaf Anda salah. Karena posting kali ini adalah mengenai suatu rutinitas yang hilang dalam hidup saya, beberapa hari belakangan ini.

Jadi, berkaitan dengan posting saya sebelumnya yang berjudul Wisata Keakraban di Pondok Indah, saya selalu menikmati perjalanan pagi hari menuju ke kantor. Akan tetapi, seminggu belakangan ini, rutinitas wisata saya terganggu karena adanya penutupan jalan menuju komplek perumahan Pondok Indah. Masalah ini sendiri sudah mencuat ke permukaan sejak saya masih kuliah di tahun 2007 (bahkan, saya dan teman2 pernah melakukan diskusi dengan tema ini di kelas. Yah, akibat wangsit dari dosen saya yang sangat cerdas).

Singkatnya, begini:
Ketika terjadi pembangunan jalur busway besar-besaran seantero Jakarta Raya dengan salah satu lokasinya di Pondok Indah, maka terjadi kemacetan di sekitaran jalan tersebut. Sudah pasti, para pengguna jalan merasa terganggu, sehingga mereka mencari jalan tikus untuk mencapai tujuannya dengan lancar.

Nah, yang terjadi kemudian adalah, para penghuni perumahan elite tersebut merasa terganggu.Mereka yang merasa bahwa itu adalah wilayah mereka, serentak menutup akses umum yang melalui aspal perumahan mereka. Sempat terjadi keributan, dengan berbagai diskusi dan argumen yang mengatakan ini benar dan itu salah (lebih jelasnya bisa baca forum diskusi ini). Efek yang terjadi hingga saat ini adalah, penutupan akses umum menuju lorong-lorong perumahan.

Memang, masih ada jalanan yang tidak ditutupi portal. Namun, dengan peningkatan jumlah kendaraan yang sangat drastis (yang saya indikasikan sebagai menurunnya nilai kendaraan dan peningkatan kemampuan masyarakat) maka kemacetan tidak dapat dihindari walaupun kita sudah menggunakan jalan pintas atau jalan tikus...

andaikan jalanan Pondok Indah selalu begini, maka hidup akan selalu bahagia :)

Jalur saya menuju kantor bisa melalui berbagai rute. Dan salah satu yang paling saya favoritkan adalah melalui lorong perumahan...
Bukan karena saya ingin lebih lancar, tapi lebih karena adanya aura kenyamanan yang saya peroleh dengan melalui jalan tersebut. Sehingga, mood saya pagi itu akan lebih baik :)

Seminggu terakhir ini, akses menuju lorong favorit saya itu ditutup. Mungkin penghuninya juga ingin merasa nyaman di rumahnya, tanpa banyak suara kendaraan yang bising. Yah, dengan adanya portal dimana-mana, otomatis perumahan itu menjadi eksklusif. Toh, dosen saya pernah berkata: "Jalanan yang berada di perumahan sekalipun adalah jalan umum, bila perumahan itu tidak dipagari." Yah berarti memang harus ada toleransi saja antara yang punya rumah dan yang menggunakan jalan. Simple, tho? Tapi ternyata toleransi kan masih hanya ada di konsep saja.

Singkat kata, wisata saya itu terhenti. Dan tanpa saya sadari, ternyata saya sangat sangat sangat merindukan wisata di lorong tersebut. Ada sesuatu yang hilang dalam rutinitas pagi saya. Ada kebahagiaan yang kurang dalam menjalani pagi saya.

Ketika saya mencoba melalui lorong tersebut dari lorong yang berbeda (lebih pendek), yang saya dapatkan adalah aura yang sama sekali berbeda. Tidak ada keakraban dan kebersamaan disana. Hanya individu-individu yang memang harus ada di jalanan saat itu, tanpa rutinitas pagi yang menarik.
Ah, saya sungguh merindukan keakraban pagi itu. Oma di kursi roda dan dua asistennya, para asisten rumah tangga dan tukang sayur bergerobak.

Bagaimanapun, saya harus menghargai privacy mereka. Toh, saya juga tidak suka bila daerah rumah saya dijadikan lokasi pengajian Nurul Mustofa...

2 comments:

  1. Judul sensasional. Hmmm... Rutinitas yg kini hilang, cas BB. Ahahaha. :p

    ReplyDelete
  2. hahaa...
    BBM, ubertwitter, email, hahaha...
    semua hilang!!!

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...