Monday, September 27, 2010

day #3: balada anak manja

aku tidak pernah meminta dilahirkan ke dunia, maka aku merasa memiliki hak untuk mendapatkan berbagai kemudahan.

sejak kecil, aku tidak mengenal yang namanya kompor, bak pencuci piring, mesin cuci, apalagi papan gilesan. yuchh... biarkan si mbak yang mengerjakannya.

mandi, hmmm... paling enak memang dimandikan. oleh mama, atau si mbak yang mengasuhku sejak kecil.

makan pun aku sering disuapi si mbak, atau si mama. kalau aku nggak suka, ya nggak akan aku makan. biarkan saja si meong yang menghabiskannya.

aku juga nggak suka minum susu, biarkan saja si meong yang menghabiskannya.
lama-lama si meong lebih mirip bantal ketimbang seekor binatang peliharaan.


menginjak usia remaja, aku mulai mengenal dunia selain negeri dongeng-ku.
teman-temanku kok ada yang suka membantu ibunya, ya? kok ada yang ke sekolah dengan berjalan kaki,
 ya?
ah, biarkan. mungkin orang tuanya tidak sekaya orang tuaku.

oia, aku ke sekolah selalu dengan mang udin, supir keluarga kami.
sesekali aku pergi naik taksi, walau jarak dari rumah ke sekolah hanya lima belas menit dengan berjalan kaki.
tapi aku tidak mau, karena debu-debu itu bisa mengotori bajuku, kulitku, dan semua barangku.

teman-temanku sering bermain ke rumahku, atau kami pergi ke mal.
tapi aku tidak pernah ke rumah mereka, karena aku takut terkena penyakit dari rumah mereka. selain itu, disana tidak ada yang menyiapkan makanan untukku, atau membukakan sepatuku.

ketika dewasa, aku mengenal rasa suka. emmm...kata majalah-majalah terbitan luar negeri yang menjadi langgananku, itu namanya cinta.
tapi, kalau cinta, mengapa tidak ada yang bertahan lebih dari dua bulan denganku?
apakah tidak ada lelaki yang bisa menyetarakan aku?
makan di restoran mahal denganku?

uuh...
lelaki-lelaki itu pasti terlalu mengagumiku, hingga mereka merasa minder denganku.

bekerja?
apakah harus? toh papa tidak punya anak lain selain aku.
toh aku akan menemukan suami yang bisa menghidupiku. kalau tidak, mana boleh mama memperbolehkannya jalan denganku?

kok, ruangan kamarku semakin lama semakin sesak?
aku tidak ingin keluar dari sini, karena segala yang aku punya ada disini.
aku tidak ingin meninggalkan dunia kecilku, karena aku takut apa yang ada di luar sana mencemariku.

mama...mama...
mengapa mama tidak menjawab panggilanku?

papa...papa...
mengapa papa menangisi gundukan tanah di depannya?
mengapa ada foto mama disana?

tidak mungkin mama ada di luar sana, karena mama sama denganku.
ia tidak akan menyentuh benda-benda asing di luar rumah kami. apalagi menyentuh tanah.

duuuh...papa! papa!
aku tidak mau membuka jendela kamarku, karena aku tidak mau ada debu dari luar yang mengenaiku.
aku juga tidak mau papa masuk ke kamarku setelah memegangi tanah itu!

duuuh...mama dimana, sih?

"non...mbak min mau pamitan, pulang kampung. si mbak kan dulu disini untuk merawat ibu, sekarang ibu sudah nggak ada, jadi si mbak mau pulang aja..."

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...