Friday, July 30, 2010

i dreamed a dream, and...

I dreamed a dream in time gone by
When hope was high and life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving

Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung, no wine untasted

But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they turn your hope apart
As they turn your dreams to shame

And still I dream he’d come to me
That we would live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather

I had a dream my life would be
So different from the hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed

This song keeps playing in my head. Especially in "now life has killed the dream I dreamed..."
(cari tahu sendiri lagunya :p)

Apakah hidup memang mematikan mimpi-mimpi manusia?
Apakah ini yang dinamakan, kenyataan tak seindah bayangan?
Mengapa tidak bisa seindah mimpi?
Bila demikian, jangan bangunkan saya dari mimpi. Agar saya bisa terus bahagia.

Krisis mimpi, saya namakan demikian.

Mau mimpi sebagai bunga tidur, mau itu harapan masa depan, mau itu khayalan di siang bolong. Semua tidak ada yang nyata. Semua hanya ada di alam bawah sadar kita yang kemudian masuk ke dalam otak entah bagaimana caranya. Saraf-saraf kehidupan menghantarkan pada satu sel otak yang kemudian mendorong saya, selaku manusia, untuk kemudian memiliki gambaran berwarna yang tidak nyata. Ya, mimpi saya selalu berwarna, dan cerah.

Konon, ada bedanya mimpi yang satu dan lainnya. Berwarna dan hitam putih. Dan juga ada artinya.
Saya sih tidak tahu, dan malas untuk mencari tahu. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, apakah hidup memang membunuh mimpi saya, atau justru menghidupkan mimpi-mimpi saya (mimpi saya juga jamak, lho). Kalau ada yang penasaran, silakan buka situs tafsir mimpi yang cukup banyak di Indonesia, hehe...

Suatu hari, ido pernah bilang pada saya kalau dalam hidup saya hanya ada tuntutan dan kewajiban. Tidak ada kecintaan terhadap sesuatu, which means, saya tidak punya mimpi lagi atau mimpi saya sudah mati, atau hilang entah kemana. Hmm...is that true?

Pernah ada yang bilang juga ke saya, kalau kita sudah tidak punya mimpi dalam hidup, berarti kita sudah berubah menjadi robot. Menjadi makhluk yang tidak ada harapan dan tujuan. Bahkan, masuk surga pun masih mimpi untuk saat ini, kan? Tampaknya hanya rumput dan ilalang yang tidak punya mimpi. Ah, tampaknya mereka juga masih punya mimpi. Buktinya, mereka tumbuh ke atas, dan kemana adanya matahari. Mereka masih memimpikan matahari dan sinarnya :)

Kembali lagi. Perkataan ido membuat saya berpikir. Apakah karena apa yang saya kerjakan bukan mimpi saya, lalu berarti hidup saya salah? Uh uh, that's soooo untrue!
Dulu, ini memang doa saya. Untuk bisa berpenghasilan dan mandiri dalam hidup, that was a dream! Dan sekarang, ini menjadi nyata. Ini bukan kesalahan dari mimpi, walau bukan begini cara yang saya inginkan untuk menjadi mandiri, hehe...

Apa ini berarti kehidupan saya berakhir? Tidak juga.
Mimpi-mimpi yang baru justru bermunculan, tanpa mengesampingkan mimpi-mimpi saya yang lainnya. Sejalan beriringan, itu yang saya inginkan. Mimpi lagi, kan?
Sekarang, saya ingin menantang diri saya untuk menjadi seorang yang berhasil dalam pekerjaan, membangun koneksi yang baik, dan mencapai kesuksesan di usia muda (yang muda yang bergaya). Mimpi? Berarti saya masih hidup...

Mimpi saya yang dulu, masih ada.
Tidak terkubur hidup-hidup di perut bumi yang terdalam, tidak juga mengabur di udara hingga langit ke sembilan. Sungguh, semua masih ada.
Cafe, penulis, penyiar, penyanyi, hahaha... Semua masih ada. Termasuk menikah, menjadi ibu, memiliki rumah, beli mobil baru. Semua mimpi, harapan, dan tujuan hidup tersimpan dengan rapi disini. Di dalam bagian-bagian tubuh saya yang indah ini. Tidak akan lari kemana, karena saya yakin akan ada saatnya. Hanya waktu saja belum tepat. Iya kan, Ya Allah?

Hidup saya belum membunuh dan mengubur mimpi saya.
This hell I'm living may turn to heaven. And it's my obligation to modify it.
I live to fulfill my needs, my demands. To be human.

Tidak ada alasan bagi saya untuk mengutuk kehidupan saya saat ini.
Bukan berarti saya tidak punya mimpi, tidak punya kecintaan terhadap sesuatu hingga harus mengesampingkan hal-hal lain yang dianggap bukan mimpi.
Realita dan mimpi saya akan berjalan beriringan. Dan lagu ini akan menjadi pengiring saya untuk mencapai mimpi tersebut (selain doa dan ayat-ayat Al-Quran, hehehe) untuk menjadi reminder bahwa: hidup saya tidak boleh menjadi neraka bagi diri saya sendiri, dan mimpi saya harus terus hidup dalam hidup saya. Hingga menjadi kenyataan. Amin.

"
I dreamed a dream in time gone by
When hope was high and life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving "

...and I still dreaming :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...