Monday, July 26, 2010

bahagia dan nyaman. itu saja cukup

Sudah sifat manusia untuk mengeluh. Bahkan, sejak kita dilahirkan di dunia, kita sudah berusaha mengeluh pada dunia betapa tidak nyamannya kita. Dan itu kita sampaikan dengan tangisan yang kencang sekencang-kencangnya. Kalau ada bayi yang tidak menangis saat dilahirkan, pastilah dokter atau bidan yang membantu kelahirannya mengatakan bahwa ada yang salah dengan bayi tersebut.

Kemudian sang bayi dibersihkan, dan didekap oleh sang bunda. Diberi asi, dan ia pun tenang dalam dekapan bunda. Itulah zona nyamannya yang pertama.

Sebagai manusia yang sudah bisa melihat dunia, keluhan manusia sudah sangat biasa ditemui. Sayang sekali, padahal sebagai manusia sudah terlalu banyak yang dapat diperoleh. Namun, tega-teganya ia mengeluh atas kehidupannya. Menyedihkan.

Padahal, berkaca pada sang bayi, setelah ia memperoleh apa yang dibutuhkan, ia menjadi tenang. Itulah tanda terima kasih manusia yang pertama.

Sedangkan kita, sebagai manusia yang sudah tumbuh dewasa? Apakah kita sudah cukup berterima kasih?
Saya sendiri merasa belum. Kadang masih suka mengeluh.

Apakah saya pantas berterima kasih, di saat Tuhan mengambil seluruh sumber kebahagiaan saya? Saya tidak bergelimpangan materi dalam tuntutan zaman yang kian berat. Orang tua saya tidak mendukung keinginan masa depan saya. Saya terpaksa menjalani kehidupan saya saat ini, hanya karena tuntutan kebutuhan hidup. Saya tidak dapat bergaul dengan teman-teman saya, karena memang kami berasal dari budaya yang berbeda.

Bagaimana dengan orang lain? Mengapa mereka masih bisa berterima kasih dan berbahagia, padahal mereka juga hidup serba pas-pasan. Teman mereka tidak banyak. Kehidupan mereka tidak beragam. Seluruh hidupnya berisi perintah majikan. Dan makanan yang ia makan tidak pernah mewah.

Saya malu, Tuhan. Mengapa saya selalu mengeluh.
Padahal saya memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain.
Padahal saya tidak pernah benar-benar kekurangan.
Padahal kebutuhan hidup saya selalu terpenuhi.
Padahal hidup saya lebih beragam dibandingkan kehidupan orang lain.
Saya masih bisa menikmati makanan enak, mobil yang nyaman, rumah yang dapat melindungi, dan teman-teman yang banyak.
Mengapa saya masih mengeluh, Tuhan?

Kenyamanan. Seperti saat saya baru dilahirkan. Itu yang tidak ada.

Benarkah tidak ada?
Apakah Tuhan memberikan kenyamanan saat kita lahir?
Kenyamanan itu diciptakan. Bukan dari hasil penciptaan Tuhan, tapi itulah maha karya kita yang membuat kita menjadi ada.

Bagaimana saya bisa nyaman, bila saya tidak bahagia?

Bahagia ada di hati dan pikiran.
Bahagia bukan materi, bukan pula pemberian orang lain.
Bahagia berasal dari rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah kita miliki. Bahagia memberikan masa depan yang lebih cerah. Hingga pada akhirnya kenyamanan ada dalam genggaman.
Kenyamanan dapat diciptakan.

Apalagi yang dicari manusia?
Materi? Aktualisasi diri?

Saya, manusia, hanya ingin bahagia dan merasa nyaman.
Itu cukup

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...